#korban#tsunami#lamsel#feature#beritalampung

Entah, Kami Akan Pulang Kemana...

( kata)
Entah, Kami Akan Pulang Kemana...
Anton Sugiarto (40), warga Desa Kunjir dan istrinya Ernawati yang masih dirawat di RSUD Bob Bazar, bingung hendak pulang kemana nanti.. (foto:Lampost/Aris susanto)

KALIANDA (Lampost.co)--Kedua bola matanya masih memerah dan terasa perih. Dibalik bajunya, terlihat perban putih masih menyilang di dada. Anton Sugiarto (40), warga Desa Kunjir itu merasa kesehatannya berangsur membaik setelah tulang belikat bagian kiri dan kanannya yang patah dioperasi oleh tim dokter Rumah Sakit Bob Bazar, Kalianda, Lampung Selatan.

Pria yang kesehariannya bekerja sebagai  tukang ojek anak sekolah di Desa Kunjir itu memperlihatkan sejumlah goresan di punggungnya yang mulai mengering, akibat diterjang kayu dan matrial bangunan yang meruntuhkan rumahnya, pada Sabtu (22/12) sekitar pukul 20.30.

Tukang ojek ini setengah terbata bata saat menceritakan bagaimana ombak setinggi sekitar 4 menteran mendadak menerjang rumahnya. Dalam kondisi kedua tulang belikatnya patah akibat tertimpa reruntuhan rumahnya yang terbuat dari papan, Anton tersadar harus menyelamatkan istri dan ketiga anaknya. “Tapi saya tak bisa menyelamatkan Fatmawati, anak saya yang masih berusia sebelas bulan. Dia meninggal dalam musibah ini,” ujar Anton sedih. 
Meskipun awalnya dia belum bisa merelakan putri bungsunya itu meninggal, akhirnya dia tersadar jua, bahwa musibah itu sudah merupakan takdir Iilahi. “Tapi sekarang saya sudah ikhlas,” ujar Anton didampingi istrinya, Ernawati (40), sambil terbaring di ruang perawaran Rumah Sakit Umum Bob Bazar, Kalianda, Lampung Selatan, Kamis (27/12/2018).  

Malam itu, ujar Anton, dia bersama istrinya tengah menonton tivi. Sedangkan anak sulungnya Anisa Ramadona berada dalam kamar, bersama anak bungsunya Fatmawati.
Tiada tanda tanda akan terjadi bencana, tiba tiba ombak setinggi empat meteran menerjang rumahnya, termasuk rumah para tetangganya juga vila kosong di depan rumahnya. Rumah Anton pun roboh, dan tertimpa dinding rumah tetangga dan tiang tiang vila. Dalam kondisi panik hanya jeritan sesaat yang dia dengar. Rupanya Anton tersungkur dan kedua tulang belikatnya patah. Dengan semangat dan rasa tanggung jawabnya sebagai seorang ayah, Anton berusaha keras mencari istri dan anak anaknya yang juga tertimpa rumah. Kemudian dia ditolong orang tuanya membawa istri dan anaknya berlari ke arah yang lebih tinggi, yaitu Gunung Rajabasa.
 
Ernawati mengaku kepalanya tertimpa matrial rumah besama anak gadisnya. Paha kanannya terasa luar biasa seperti patah. Tetapi dia tetap tersadar dan berusaha menyelamatkan diri bersama anak gadisnya. 

“Ini kepala saya juga masih terasa sakit karena tertimpa genting rumah sama seperti anak saya. Paha kanan ini keseleo rupanya,” ujar Ernawati. 
paha kanannya terkilir dan membengkak.  
Malam gelap gulita itu, keluarga Anton menyelamatkan diri ke atas gunung. Sedangkan Fatmawati belum ditemukan. Keesokan harinya jasad balita itu ditemukan di puing puing rumah dalam kondisi telah meninggal dunia. “Kami semua panik dan berusaha menyelamatkan diri. Saya sadar anak saya tidak ada satu,“ ungkapnya dengan nada sedih, sambil sesekali memperhatikan selang infuse yang masih menancap di tangannya dan mulai memerah bercampur darah.
Baru pada Minggu paginya, setelah jasat Fatmawati ditemukan, lalu dimakamkan oleh keluarga. Namun Anton tetap tidak bisa mengikuti proses pemakaman karena luka di punggung dan patah kedua tulang iganya tak memungkinkan dia untuk berjalang. “Bangun dari tidur pun saya sudah tidak bisa,” akunya. 

Namun demikian, Anton tetap harus bersyukur karena istrinya hanya luka ringan dan terkilir pahan kanannya. Begitu pula putrinya yang lain hanya terluka ringan.
Di balik musibah yang menimpa warga Kunjir, ada yang harus menjadi perhatian pemerintah. Bantuan makanan dan lainnya banyak berdatangan. Tetapi tidak semua korban bisa langsung menikmatinya, karena pamong disana menurut Ernawati pilih pilih menyampaikan bantuan itu. Keluarga pamong lah yang paling dulu menikmati bantuan itu. Padahal kami juga korban. 
“Ini saya katakana apa adanya,” ujar Ernawati di samping suaminya. Dia menyadari, semua pihak sudah jelas sibuk ingin segera para korban bisa divakuasi ke tempat yang lebih aman, tapi memperhatikan kemana bantuan itu disalurkan juga menjadi bagian penting dalam kondisi seperti itu. 
Anton dan keluarganya sempat tidak makan sesuap nasi pun sejak malam musibah itu hingga siang harinya, karena bantuan makan belum disampaikan kepada keluarganya. 

Sampai saat ini Anton pun merasakan masih belum enak makan karena harus memikirkan akan kembali kemana setelah ini. Rumah sudah rata dengan laut, sawah tak punya. Satu satunya kendaraan sarana untuk mencari nafkah pun dipastikan rusak berat dan entah dimana keberadaannya. “Saya bingung, entah kami mau pulang kemana. Apa yang bisa kami lakukan sekarang,” ujar Anton di ruang perawatan. 

Aris Susanto

Berita Terkait

Komentar