pembobolanmaybankbobol

Empat Fakta di Balik Pembobolan Dana Nasabah Maybank Rp22 Miliar

( kata)
Empat Fakta di Balik Pembobolan Dana Nasabah Maybank Rp22 Miliar
Ilustrasi: Medcom.id


Jakarta (Lampost.co) -- Sejumlah fakta seputar kasus pembobolan dana rekening berjangka atlet e-Sports Evos Ladies Mobile Legend, Winda D Lunardi alias Winda Earl, terungkap. Kasus raibnya uang Rp22 miliar milik Winda Earl menunjukkan sejumlah indikasi baru seiring berjalannya penyidikan di Bareskrim Polri.

 

Sejumlah fakta yang diungkap kepolisian, langsung dibantah pihak Maybank. Beberapa kejanggalan juga ditemukan. Tak hanya itu, keterlibatan petinggi bank dan indikasi aliran uang ke orang dekat Winda Earl juga terendus.

 

Berikut fakta-fakta menarik seputar kasus tersebut:

1. Tabungan Berjangka Berujung Petaka

Winda Earl terbuai janji pimpinan Maybank Cabang Cipulir membuka rekening berjangka di Maybank. Dia dijanjikan menerima keuntungan 10 persen per tahun.

Winda Earl dan ibunya, Floletta, menabung di Maybank sejak 2015 dalam dua rekening terpisah. Hingga 2020, uang di dua rekening tersebut seharusnya sudah mencapai Rp20 miliar.

"Rincian (tabungan) Winda Rp15 miliar, ibunya Rp5 miliar," kata kuasa hukum Winda, Joey Pattinasarany di Jakarta, Kamis, 5 November 2020.

Namun, tabungan keduanya tiba-tiba raib. Hanya tersisa Rp17 juta di rekening Floletta dan Rp600 ribu di rekening Winda.

Peristiwa itu diketahui saat Floletta ingin menarik dana di Maybank pada Februari 2020. Namun, penarikan dana ditolak dengan alasan saldo tidak cukup.

Winda Earl melaporkan kasus tersebut pada Mei 2020. Tak kunjung mendapat kabar, dia pun mendatangi Mabes Polri pada 5 November 2020.

Kepolisian awalnya menyebut Winda Earl tersandung kasus rekening fiktif dan penipuan. Namun, pihak Maybank Inonesia memastikan rekening berjangka Winda Earl tak palsu.

"Rekeningnya kan kita buka, ada bukti rekening, ada formulir pembukaan, rekening betul dibuka oleh Maybank bukan fiktif," kata Head Financial Crime Compliance (FCC) dan National Anti Fraud (NAF) Maybank Andiko dalam konferensi pers di Jetski Cafe, Penjaringan, Jakarta Utara, Senin, 9 November 2020.

Sementara itu, Kuasa Hukum Maybank Hotman Paris Hutapea mengatakan ada bunga sebesar 7 persen diterima ayah Winda, Herman Lunardi, atas pembukaan rekening tersebut. Total uang yang diterima Herman Rp576 juta.

Polisi berjanji serius menelusuri kasus raibnya uang Winda Earl ini.

2. Kepala Cabang Maybank Cipulir Jadi tersangka

Tak sampai 24 jam Winda Earl mendatangi Bareskrim Mabes Polri, Kepala Cabang (Kacab) Maybank Cipulir berinisial AT ditetapkan sebagai tersangka. Dia dijerat pasal berlapis karena dinilai menguras dana nasabah.

Manajer Bisnis Maybank itu dijerat Pasal 3, 4, dan 5 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU). "Ancaman pidana berupa penjara paling lama 20 tahun dan denda paling banyak Rp10 miliar," kata Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Awi Setiyono di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Jumat, 6 November 2020.

Dia juga dijerat Pasal 49 ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan. Dia diancam hukuman pidana penjara delapan tahun atau denda maksimal Rp100 miliar.

Polisi tak berhenti mengusut kasus ini. AT diduga tak bermain sendiri. Sebab, sejumlah aliran dana terendus mengalir ke sejumlah pihak lain.

Keterlibatan petinggi bank ini menyita perhatian publik. Sebab, kasus penggelapan dana nasabah yang dilakukan orang dalam bank telah beberapa kali terjadi.

Teranyar, Polda Maluku menetapkan tiga tersangka baru dalam pembobolan dana nasabah BNI senilai Rp58,9 miliar pada Oktober 2020. Salah satunya, pimpinan cabang BNI.

3. Enam Kejanggalan Versi Maybank

Maybank Indonesia merespons cepat kasus yang melibatkan orang dalam ini. Namun, pihak bank menemukan enam kejanggalan. Hotman memerinci tabungan atas nama Winda awalnya dibuka pada 27 Oktober 2014 dengan dana awal Rp2 miliar. Dana ditransfer oleh ayahnya, Herman Lunardi.

Kejanggalan pertama, sejak rekening dibuka, Winda telah menerima buku tabungan dan kartu anjungan tunai mandiri (ATM). Fakta itu dikemukakan berdasarkan bukti tanda terima.

Kedua, bunga bank. Hotman menyebut bunga bank dibayarkan dari rekening pribadi pimpinan cabang di bank lain. Pemilik rekening tidak protes terkait hal tersebut.

Ketiga, bunga bank yang dibayarkan selama periode 2014-2016 sebesar Rp576 juta. Pembayaran dari rekening pimpinan cabang ke bank lain atas nama Herman.

Hotman menyebut bunga bank senilai Rp576 juta tidak sesuai rate yang disepakati, yakni 7 persen setahun. Seharusnya, bunga bank yang diberikan Rp1,2 miliar.

Keempat, ada aliran dana Rp6 miliar keluar dari rekening Winda ke Prudential. Transaksi ini ditransfer oleh tersangka A untuk pembelian polis atas nama Winda.

Namun, pada bulan berikutnya ada uang masuk dari Prudential ke rekening ayah Winda sebesar Rp4,8 miliar. Transaksi ini terlihat dalam mutasi rekening.

Kelima, pemilik rekening mengaku menerima rekening koran. Hotman menyebut Winda membuka rekening fastbook. Mestinya, pemilik rekening mendapat buku tabungan, bukan bank statement. Jadi tidak memiliki rekening koran.

Keenam, saat pembukaan rekening Winda hanya menandatangani blanko. Sementara itu, semua data nasabah diisi pimpinan cabang atau tersangka AT.

4. Ayah Winda Earl terima aliran uang

Kuasa Hukum Maybank Hotman Paris Hutapea menyebut ada delapan orang penerima uang tersebut. Salah satunya ayah Winda, Herman Lunardi.

"Di luar Herman Lunardi dan Winda, ada enam pihak lain," kata Hotman dalam konferensi pers Maybank, Senin, 9 November 2020.

Maybank Indonesia mencatat aliran dana Rp527 juta dari rekening bermasalah tersebut turut mengalir ke Herman. Hotman tak gamblang menyebut ayah Winda Earl terlibat dalam kasus ini.

Namun, Polisi menyatakan kasus pembobolan dana Winda Earl terus didalami. Salah satunya, hubungan antara Ayah Winda Earl dan Kepala Cabang Maybank Cipulir, AT, yang teltah ditetapkan sebagai tersangka.

"Semua itu akan dikorek keterkaitannya," kata Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Awi Setiyono di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Rabu, 11 November 2020.

Polisi juga tak menutup kemungkinan ada tersangka lain dalam kasus ini. Terutama orang yang terlibat memutar uang yang digelapkan AT. Namun, polisi enggan berbicara banyak karena seluruh indikasi yang disampaikan Maybank masuk materi penyidikan.

Awi menegaskan kepolisian menggunakan tiga unsur penting untuk mendapatkan bukti segitiga atau triangle evidence. "Keterkaitan korban, saksi, tersangka, kemudian barang bukti penyidikan centralnya itu adalah di tempat kejadian perkara (TKP)," tegas Awi.
 

Winarko







Berita Terkait



Komentar