#korupsi

Eks Sekretaris Dinas BMBK Lampung Didakwa Terima Dua Kali Proyek Fiktif

( kata)
Eks Sekretaris Dinas BMBK Lampung Didakwa Terima Dua Kali Proyek Fiktif
Mantan Sekretaris Dinas Bina Marga dan Konstruksi (BMBK) Lampung, Nurbuana, dan pegawainya, Hasrul, menjalani sidang perdana. Keduanya didakwa atas perkara jual beli proyek fiktif di Pengadilan Tipikor Tanjungkarang. Lampost.co/Asrul


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Mantan Sekretaris Dinas Bina Marga dan Konstruksi (BMBK) Lampung, Nurbuana, dan pegawainya, Hasrul, menjalani sidang perdana. Keduanya didakwa atas perkara jual beli proyek fiktif di Pengadilan Tipikor Tanjungkarang, Senin, 20 Juni 2022.


Keduanya didakwa melanggar Pasal 378 KUHP Jo Pasal 56 ayat (1) KUHP, dan Pasal 372 KUHP Jo Pasal 56 ayat (1) KUHP.

Dalam dakwaan jaksa Roosman Yusa menjelaskan perbuatan keduanya bermula saat Hasrul datang ke rumah korban H. Sukri menawarkan beberapa paket proyek di Dinas BMBK Lampung pada awal 2020. 

Hasrul yang tak kenal dengan korban mencoba meyakinkan dengan mengaku sebagai PNS di dinas tersebut. Sebab, korban mengaku mengenal terdakwa Nurbuana dan meminta dihubungkan ke Nurbuana. 

Kemudian, pada 4 Januari 2020 Hasrul dan Nurbuana datang ke rumah korban membicarakan paket proyek jalan, yaitu jalan Desa Kalirejo, Pesawaran, pemeliharaan jalan Desa Wates menuju Metro, dan pembangunan jalan Simpang Empat Kasui, Way Kanan. Kemudian pembangunan jalan Kecamatan Kasui ke arah Ds. Air Ringkih, Way Kanan.

"Selanjutnya pembangunan Jalan Ds. Bumi Harjo ke arah Simpang WayTuba, Way Kanan, dan pemeliharaan Jalan Bumi Harjo ke arah Simpang Way Tuba, Way Kanan," kata Roosman.

Kemudian Hasrul meminta uang untuk penawaran proyek tersebut dan korban menyerahkan Rp400 juta, atas perintah Nurbuana. Uang itu diserahkan ke Ujang dan dibuatkan tanda terima. 

Lalu, pada 19 Februari 2020, Ujang kembali datang ke rumah korban bersama saksi Sudirman (almarhum) meminta dana tambahan. Saat proses tersebut, Hasrul menelpon Nurbuana dan ia datang ke rumah korban. Korban pun kembali menyerahkan uang Rp330 juta kepada Ujang.

Selanjutnya, pada September 2020, korban meminta pengembalian ke terdakwa karena proyek tak kunjung didapat. Sehingga korban melapor ke Polda Lampung.

"Atas perbuatan terdakwa Nurbuana dan Hasrul, korban Sukri mengalami kerugian hingga Rp730 juta," kata dia.

 

Effran Kurniawan








Berita Terkait



Komentar