#ekbis#beritalampung#perekonomian

Ekonomi Lampung Triwulan IV 2020 Diprediksi Lebih Tinggi

( kata)
Ekonomi Lampung Triwulan IV 2020 Diprediksi Lebih Tinggi
Ilustrasi. Foto: Google Images

Bandar Lampung (Lampost.co): Bank Indonesia menyatakan bahwa perekonomian Lampung pada triwulan IV 2020 diperkirakan tumbuh lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Prakiraan ini didasari oleh berlanjutnya pemulihan ekonomi global serta berangsur pulihnya aktivitas ekonomi domestik pada fase adaptasi kebiasaan baru dan pelaksanaan Pilkada serentak tahun 2020. 

"Konsumsi rumah tangga pada triwulan IV 2020 diperkirakan mulai membaik, meskipun masih terbatas seiring berlanjutnya stimulus fiskal seperti penyaluran bansos serta faktor musiman peningkatan konsumsi masyarakat pada akhir tahun meskipun tidak setinggi tahun lalu," kata Kepala Perwakilan Bank Indonesia provinsi Lampung, Budiharto Setyawan, kepada Lampung Post, Rabu, 30 September 2020.

Beberapa indikator dini, lanjut dia, menunjukkan perbaikan seperti indeks perkiraan kondisi kegiatan usaha, perkiraan penghasilan, dan perkiraan ketersediaan lapangan kerja. Sejalan dengan konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah diperkirakan meningkat seiring adanya arahan pemerintah pusat untuk mengoptimalkan realisasi anggaran, khususnya belanja modal, guna mendukung pemulihan ekonomi. 

Selanjutnya, kinerja investasi diperkirakan membaik bersumber dari beberapa proyek investasi bangunan pemerintah yang tetap dioptimalkan setelah dilakukannya realokasi anggaran terkait penanganan Covid-19. 

"Sementara itu, investasi swasta diprakirakan tertahan seiring perilaku wait and see pelaku usaha akan perkembangan penanganan Covid-19 dan pelaksanaan Pilkada serentak 2020," katanya.

Dari sisi eksternal, kinerja ekspor diprakirakan membaik seiring berlanjutnya pemulihan aktivitas ekonomi di beberapa negara mitra dagang utama Lampung.

Secara keseluruhan tahun 2020, pandemi Covid-19 memberikan tekanan terhadap pertumbuhan ekonomi Lampung. Dari sisi permintaan domestik, konsumsi diprakirakan tumbuh melambat terutama dipengaruhi oleh penurunan daya beli masyarakat masyarakat seiring turunnya penghasilan akibat penjualan yang menurun, PHK, dan adanya kebijakan untuk merumahkan pegawai.

Investasi juga diprakirakan melambat disebabkan oleh melemahnya permintaan domestik, ekspor, serta perilaku wait and see dunia usaha terkait perkembangan Covid-19 dan pelaksanaan Pilkada serentak tahun 2020. Sementara itu, kontraksi ekspor dan impor berlanjut sejalan dengan proyeksi penurunan pertumbuhan ekonomi global dan permintaan domestik.

"Mengantisipasi penurunan kinerja ekonomi yang lebih dalam dan menjaga stabilitas makroekonomi di tengah pandemi Covid-19, diperlukan upaya bersama seluruh pihak," jelasnya. 

Pertama, tambah dia, meningkatkan dan memperluas sosialisasi dan edukasi terkait pelaksanaan protokol Covid-19 secara ketat pada fase adaptasi kebiasaan karu. Kedua, Pemerintah Daerah memiliki peran kunci melalui percepatan penyerapan APBD. Ketiga, secara bertahap membuka sektor-sektor produktif dengan memperhatikan keamanan dan protokol Covid-19. Keempat, menyukseskan restrukturisasi kredit perbankan dan dunia usaha. Kelima, dalam mendorong pemulihan UMKM, pemanfaatan digital (promosi dan transaksi pembayaran digital) dan Gerakan Bangga Buatan Indonesia perlu diperluas. 

"Bank Indonesia melalui bauran kebijakannya juga akan terus memperkuat sinergi dengan Pemerintah dan otoritas terkait agar berbagai kebijakan yang ditempuh semakin efektif mendorong pemulihan ekonomi," tutupnya.

Adi Sunaryo



Berita Terkait



Komentar