#terorisme#radikalisme

Edi, Mantan Teroris Lampung yang Ingin Kembali Jualan Soto

( kata)
Edi, Mantan Teroris Lampung yang Ingin Kembali Jualan Soto
Edi Santoso saat diwawancarai awak media, Minggu, 15 Agustus 2021. Lampost.co/Salda Andala


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Edi Santoso (49), warga Panjang, Bandar Lampung adalah mantan narapidana terorisme (Napiter). Saat ini, ia mulai berbaur dengan masyarakat seusai bebas dari penjara khusus napiter di Sentul.

Bapak satu anak ini menceritakan pengalamannya selama aktif di jaringan radikal, mulai dari teknik pengintaian hingga peracikan bom. Ia terpapar paham radikalisme sejak 2012 silam.

"Waktu itu saya salah, hanya memahami dari satu sisi saja tidak mau membuka diri," katanya, Minggu, 15 Agustus 2021. 

Baca: Tujuh Anggota JI di Lampung Ditangkap Densus 88

 

Edi mengaku, mendekam di dalam tahanan selama 7,8 tahun membuatnya sadar bahwa apa yang dilakukannya selama ini bukanlah sebuah jalan kebaikan. 

"Saya buka makalah Ar-rohmah. Kedua, saya juga sudah mendapat pemahaman dari sesama tahanan. Sekarang saya minta generasi muda jangan gampang terbujuk paham radikal," katanya.

Kini, Edi fokus dengan rencananya untuk kembali menekuni profesi yang sempat ia tinggalkan, yakni berdagang soto ayam.  

"Mohon doa. Semoga niat saya ini berjalan lancar. Semenjak ikut kelompok tersebut akhir berjualan soto mulai tergangu," aku Edi. 

Di sisi lain, Edi mengatakan, tidak mudah untuk menghilangkan stigma negatif sebagai mantan teroris. Oleh sebab itu, ia bersama dua rekannya, Anton Sujarwo dan Solihin membentuk sebuah organisasi bernama Komunitas Mangkubumi Putra Lampung. Tujuan organisasi tersebut adalah untuk menjembatani mantan-mantan napiter yang ingin bergabung dan memberikan kesan yang baik kepada masyarakat.

"Alhamdulillah dibantu oleh Polda Lampung mewujudkan semua itu," katanya.

Edi berpesan agar masyarakat  tidak mudah terdoktrin paham radikalisme, terutama melalui media sosial.

"Perbanyak sharing dengan yang sudah berpengalaman, supaya tidak terjebak. Setop melakukan huru-hara atau hal yang membuat resah masyarakat," kata Edi.

Sobih AW Adnan







Berita Terkait



Komentar