uangpalsuanak

Edarkan Upal, Anak di Bawah Umur Divonis 4 Bulan Penjara

( kata)
Edarkan Upal, Anak di Bawah Umur Divonis 4 Bulan Penjara
dok Lampost.co


Bandar Lampung (Lampostc.co) -- Hakim Pengadilan Negeri Tanjungkarang menjatuhkan hukuman pidana penjara terhadap terdakwa anak di bawah umur berinisial VY (17) Warga Kabupaten Pesawaran dengan pidana penjara selama 4 bulan serta pelatihan kerja selama 2 bulan, lantaran mengedarkan uang palsu sebanyak 65 lima lembar pecahan Rp100 ribu.

Hakim ketua Hendro Wicaksono mengatakan, Memperhatikan ketentuan pasal 36 ayat 2 Undang Undang RI Nomor 7 tahun 2011 tentang mata uang Jo Undang-undang RI Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak dan Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana serta peraturan perundang-undangan lain yang bersangkutan.

Mengadili menyatakan anak VY terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana, menyimpan secara fisik dengan cara apapun yang diketahuinya merupakan uang rupiah palsu, sebagaimana dalam dakwaan Alternative kedua Penuntut Umum.

" Menjatuhkan pidana terhadap anak VY oleh karena itu dengan pidana penjara di dalam Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) di Masgar Pesawaran selama 4 bulan serta pelatihan kerja selama 2 bulan," kata Hakim dalam putusanya.

Menetapkan masa penahanan yang telah dijalani Anak dikurangkan seluruhnya dari lamanya pidana yang dijatuhkan. Memerintahkan agar Anak tetap ditahan.

Barang bukti 65 lembar uang palsu pecahan Rp100 ribu, 1 buah dompet laki-laki warna coklat, 1 buah dompet laki-laki warna coklat yang terdapat kancing pengai, 1 unit handphone Android merk OPPO warna gold kombiasi putih dengan, 1 unit mobil toyota Vios Limo, Dikembalikan kepada jaksa Penuntut Umum untuk digunakan dalam perkara Yusuf Romadona.

Vonis majlis hakim lebih rendah dari tuntutan jaksa dimana sebelumnya jaksa menuntut terdakwa dengan pidana penjara selama 6 bulan serta pelatihan kerja selama 2 bulan.

Hakim menjelaskan perbuatan terdakwa berawal  pada hari Jum’at 02 Oktober 2020 sekira pukul 08.30 Wib ketika itu terdakwa (anak) berada di rumahnha, lalu anak berkomunikasi dengan tantenya yaitu Firli (DPO) menggunakan handphone. 

" Firli berkata Kamu mau uang nggak dan terdakwa anak menjawab Uang apa dan Firli menjawab Uang palsu pecahan Rp100 ribu ada 75 lembar dan anak menjawab  Ya sudah mana lihat kata anak. lalu Firli mengirimkan foto uang palsu tersebut ke aplikasi whatssapp milik anak," kata Hakim.

Setelah anak melihat foto uang palsu tersebut lalu Firli menghubungi anak kembali dan berkata, " Ya sudah besok kan saya mau ke Lampung, kalau mau liat sekalian besok dan anak menjawab Iya bun," 
Kata hakim menirukan ucapan terdakwa anak.

 Kemudian terdakwa kerumah saksi Yusuf (disidangkan secara terpisah) di Branti Raya Kecamatan Natar, Lampung Selatan. anak berkata kepada saksi Yusuf kalau anak akan mendapatkan uang palsu pecahan Rp100 ribu dari tante anak dengan maksud untuk diedarkan dan dijanjikan akan mendapat keuntungan Rp40 Ribu perlembarnnya.

" Terdakwa menawarkan kepada rekan-rekanya yang lain dan mereka setuju untuk mengedarkan uang tersebut," kata hakim.

Setelah semua rekanya setuju mereka menyewa kendaraan jenis mini bus merek Vios dengan tujuan jalan-jalan ke pantai. Diperjalanan menuju panti, mereka sempat berhenti beberapa kali untuk membeli roko, karena situasi ramai mereka tetap berjalan ke arah Bandar Lampung.

" di Bandar Lampung mereka berhenti di rumah makan untuk membeli rokok, karena pemilik warung makan tidak ada uang kembalian dia tukar ke Pom bensin namun uang yang ditukar dicurigai palsu, disitu pihak kepolisan dihubungi dan menangkap para pelaku," kata hakim.

Penasehat Hukum Terdakwa dari pos bantuan Hukum PBH Peradi pada Pengadilan Negeri Tanjungkarang, Dita Anisa mengatakan, vonis majelis hakim dinilai oleh terdakwa sudah sesuai, atas alasan itu dia bersama kilennya tidak mengajukan banding dan menerima putusan itu.

" Terdakwa langsung menanggapi, bahwa dia menerima putusan yang diberikan majlis hakim padanya, jadi kami tidak mengajukan hukum upaya banding," kata Dita Anisa di Kantornya.

Setiaji Bintang Pamungkas







Berita Terkait



Komentar