#Covid-19#Covid-19indonesia

E484K, Mutasi Baru Virus Korona yang Terdeteksi di Indonesia

( kata)
E484K, Mutasi Baru Virus Korona yang Terdeteksi di Indonesia
Ilustrasi-Pexels


Jakarta (Lampost.co) -- Mutasi virus E484k atau mutasi EEK sudah memasuki Indonesia. Mutasi E484K ini pertama kali diidentifikasi di Afrika Selatan. Mengenai adanya mutasi virus tersebut, banyak terjadi kekhawatiran bahwa virus akan berkembang lebih jauh dan dapat menjadi kebal terhadap vaksin.

 

Dilansir dari The BMJ, mutasi E484K bukanlah varian baru, ini adalah mutasi yang terjadi pada varian berbeda dan telah ditemukan pada varian Afrika Selatan (B.1.351) dan Brasil (B.1.1.28). Mutasi terjadi pada protein lonjakan (spike protein) dan tampaknya berdampak pada respons kekebalan tubuh dan mungkin, kemanjuran vaksin.

Pada 1 Februari, Public Health England (PHE) mengumumkan bahwa konsorsium Covid-19 Genomics (COG-UK) telah mengidentifikasi mutasi E484K yang sama ini pada 11 sampel yang membawa varian Inggris B.1.1.7 (terkadang disebut varian Kent), setelah menganalisis 214.159 sequence.

Apakah mutasi ini perlu dikhawatirkan?

E484K disebut escape mutation karena membantu virus melewati pertahanan kekebalan tubuh. Ravindra Gupta dari Universitas Cambridge dan rekannya telah mengonfirmasi bahwa varian baru B.1.1.7 plus E484K secara substansial meningkatkan jumlah antibodi serum yang diperlukan untuk mencegah infeksi sel.

Kita sudah tahu bahwa varian B.1.1.7 lebih mudah ditularkan. Sehingga kombinasi virus yang menyebar lebih cepat yang juga memiliki kemampuan lebih baik dalam menghindari kekebalan merupakan hal yang mengkhawatirkan.

Kekhawatiran lain adalah bahwa varian Afrika Selatan mungkin dapat menginfeksi kembali orang-orang yang sebelumnya telah terinfeksi bentuk asli virus secara lebih efisien. Lawrence Young, seorang ahli virologi dan profesor onkologi molekuler di Universitas Warwick, mengatakan, ini mungkin karena mutasi E484K dapat melemahkan respons imun dan juga memengaruhi umur panjang dari respon antibodi penetral.

"Jadi, varian B.1.1.7 yang membawa mutasi E484K mungkin lebih efisien saat terinfeksi ulang,” terang Lawrence.

Akankah vaksin efektif melawan varian yang baru muncul ini?

Ada penelitian yang menunjukkan bahwa vaksin saat ini bekerja melawan varian B.1.1.7 Inggris tanpa mutasi E484K. Namun, uji klinis baru-baru ini oleh Novavax dan Johnson & Johnson menunjukkan bahwa, vaksin baru mereka kurang efektif di Afrika Selatan dibandingkan dengan di Inggris atau AS, yang mungkin disebabkan oleh virus tingkat tinggi yang membawa mutasi E484K.

Meski begitu, Novavax melaporkan 60 persen kemanjuran vaksin mereka di Afrika Selatan yang merupakan respons yang cukup baik. Dan para ilmuwan mengatakan bahwa vaksin dapat didesain ulang dan disesuaikan agar bisa lebih cocok dengan varian baru hanya dalam hitungan bulan.

Tim Oxford AstraZeneca, misalnya, mengumumkan bahwa mereka sedang mengupdate vaksin agar lebih efektif melawan mutasi yang ada. Mungkin saja itu bisa dalam bentuk penguat satu dosis yang diperbarui dan diluncurkan setiap tahun.

Winarko







Berita Terkait



Komentar