#industrihijau#revolusiindustri#ptggp#ekbis

E-Grower PT GGP Raih Penghargaan Industri Hijau dari Kemenperin

( kata)
E-Grower PT GGP Raih Penghargaan Industri Hijau dari Kemenperin
Managing Director Innovation And Technology PT GGP Djoni Wesida menerima penghargaan dari Kementerian Industri. Foto: Dok


Jakarta (Lampost.co): PT Great Giant Pineapple (PT GGP) menerima penghargaan dari Kementerian Perindustrian (Kemenperin) pada acara Penghargaan Industri Hijau 2019 yang digelar Kemenperin di Jakarta, 16 Desember 2019, lalu. Penghargaan diserahkan langsung oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian Republik Indonesia Ahmad Sigit Dwiwahjono kepada Managing Director Innovation And Technology PT GGP Djoni Wesida. 

Penghargaan Industri Hijau yang diselenggarakan oleh Kementerian Perindustrian melalui unit kerja Badan Penelitian dan Pengembangan Industri itu merupakan program pemberian penghargaan tahunan yang diberikan kepada perusahaan industri yang telah menerapkan prinsip industri hijau dalam proses produksinya.

Program ini bertujuan mendorong perusahaan industri untuk terus melakukan continuous improvement di segala lini dalam rangka meningkatkan efisiensi dan efektivitas produksi. Pada kesempatan ini penghargaan diberikan kepada PT GGP karena keberhasilannya menjalankan praktik-praktik terbaik keberlanjutan 'Industri Hijau' melalui program eGrower.

Managing Director Innovation And Technology PT GGP Djoni Wesida mengatakan sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Kementerian Perindustrian atas penghargaan yang sudah diberikan kali ini. PT GGP sebagai salah satu perusahaan terdepan dalam bidang industri hortikultura di Indonesia, selalu berusaha membuat terobosan dalam menjalankan praktik-praktik keberlanjutan 'Industri Hijau'.

"Kali ini PT GGP mencoba dengan menerapkan pertanian berbasis siber teknologi digital. Tidak hanya di dalam perusahaan, saat ini manajemen juga berkeinginan untuk turut serta dalam mengenalkan dan membangun peradaban berteknologi kepada petani dan masyarakat sekitar agar bisa terlibat langsung dalam kompetisi global di era Industri 4.0 yang serba cepat, praktis dinamis, dan kompetitif. Dengan harapan pada akhirnya petani dan masyarakat bisa ikut menikmati hasil kegiatan ekonomi produktif tersebut, yakni peningkatan kesejahteraan," ujar Djoni, melalui keterangan tertulis yang diterima Lampost.co, Senin, 6 Januari 2020.

Menurutntya, PT GGP mencoba mengenalkan dan menerapkan aplikasi gawai berbasis android bernama eGrower sejak tahun 2016. Komoditas yang dikembangkan melalui pola creating share value (CSV) dalam aplikasi ini antara lain adalah pisang mas, pisang barangan, pisang rajabulu, pepaya kuning, pepaya merah, dan jambu bangkok.

Komoditas-komoditas tersebut selama ini telah yang diproduksi oleh petani melalui program kemitraan dengan PT GGP dan tersebut diserap oleh perusahaan untuk selanjutnya dipasarkan baik domestik maupun ekspor.

"Beberapa komoditas seperti pepaya dan jambu diolah di pabrik menjadi produk olahan/cocktail dalam kaleng. Sedangkan pisang dipasarkan dalam bentuk segar," ujar Djoni.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal KemMenterian Perindustrian Ahmad Sigit Dwiwahjono pada kesempatan tersebut mengatakan saat ini industri hijau sudah menjadi tuntutan pasar seiring dengan semakin tingginya kepedulian pasar akan kelestarian lingkungan dan pembangunan berkelanjutan.

"Dari segi industri hakikatnya industri hijau adalah upaya terus menerus untuk meningkatkan sistem produksi agar semakin efisien dan ramah lingkungan dengan menerapkan praktek terbaik dalam hal manajemen perusahaan maupun dalam pemilihan teknologi proses," katanya.

Aplikasi eGrower adalah mobile aplikasi yang dibuat oleh  PT Great Giant Pineapple (PT GGP) sebagai aplikasi pendukung Industri 4.0 dalam membangun kawasan Industri Hortikultura dengan pola CSV. Tantangan yang dihadapi petani Indonesia dalam menghadapi kompetisi global masih sangatlah besar, disamping kualitas produk yang masih belum bisa bersaing, kontinuitas produksi juga menjadi kendala.

Petani Indonesia saat ini masih banyak melakukan budidaya secara tradisional, selain itu mereka masih harus menghadapi labilnya pasar dan harga jual yang diterima di beberapa komoditas karena masih tergantung oleh tengkulak. Hal ini dikarenakan panjangnya mata rantai tata niaga dan tidak adanya transparansi terhadap harga maupun kualitas. Oleh karena itu PT GGP ingin memastikan bahwa petani memiliki kemampuan untuk menghasilkan produk-produk pertanian yang berkualitas dengan jaminan harga yang lebih pasti dengan melakukan pembinaan, pendampingan, pemberian bibit unggul, bantuan untuk mendapatkan sarana produksi tani murah melalui fasilitas 'Kawasan Berikat', dan kepastian bahwa produk mereka akan dibeli dan dipasarkan oleh perusahaan sebagai off-taker. Harapannya keuntungan budidaya akan dinikmati seutuhnya oleh petani/kelompok tani/koperasi tani.

Sementara itu untuk mendorong perusahaan industri menerapkan prinsip Industri Hijau, sejak tahun 2010 Kementerian Perindustrian menyelenggarakan kegiatan Penghargaan Industri Hijau. Kegiatan ini juga merupakan salah satu bentuk insentif non-fiskal bagi perusahaan industri manufaktur yang telah melakukan upaya yang signifikan dalam efisiensi penggunaan sumber daya material, energi, dan air.

Pada tahun 2019 ini Kementerian Perindustrian kembali menyelenggarakan Penghargaan Industri Hijau yang ke-10 kalinya. Program penghargaan ini diberikan kepada perusahaan industri nasional yang terbagi dalam 3 kategori, yaitu industri besar, industri menengah, dan industri kecil.Proses verifikasi dan penilaian dilakukan oleh Tim Teknis dan Dewan Pertimbangan yang berasal dari unsur pemerintah, perguruan tinggi, lembaga penelitian, dan instansi terkait lainnya.Mekanisme proses verifikasi dan penilaian akan dilakukan dengan 2 metode pertama melakukan kunjungan/verifikasi ke perusahaan industri kemudian mengundang perusahaan Industri untuk menyampaikan presentasi terkait upaya-upaya yang dilakukan dalam penerapan prinsip industri hijau.

Adi Sunaryo







Berita Terkait



Komentar