#nuansa#durian

Durian

( kata)
Durian
Ilustrasi Google Images

Setiaji Bintang Pamungkas

Wartawan Lampung Post

FARHAN, bocah berusia 13 tahun sedang duduk di teras. Ia begitu asyik dengan gawainya. Ditatapnya layar ponsel pintar dengan mimik serius. 

Di depan rumahnya, lewatlah Kentus, kawan sepermainan. Ia membawa setandan durian warna hijau kekuningan. Fisik dan aromanya menggoda Farhan yang saat itu sedang asyik bermain game ular.

Farhan dan Kentus bertatapan beberapa detik.  Akhir Kentus menegur, "Han, main ke rumah ku ya, kita mabar (main bareng)," ujar dia.

Farhan langsung mengiyakan ajakan Kentus yang saat itu berjalan bersama sang ayah. Rumah Farhan dan Kentus berdekatan, hanya disekat tiga rumah. 

Sesampainya di rumah Kentus, Farhan duduk di teras.  Wangi durian tadi masih mengacak-acak indra penciuman Farhan. Ia pun agak gusar, apalagi Si Raja Buah itu memang kesukaannya. 

Farhan sadar, ia tidak mampu membeli buah mahal itu karena keterbatasan ekonomi ibunya yang hanya bekerja sebagai tukang cuci. Ayah Farhan telah berpulang sejak setahun silam.

Farhan berharap Kentus berbaik hati membawakan satu biji saja. Namun Kentus hanya keluar membawa gadgetnya. Mereka pun mulai bermain game perang bersama.

Tidak lama, mabar bertambah menjadi tiga orang. Sebab, kedatangan Juned, sepupu Kentus. Ia baru saja mampir untuk bermain bersama.

Baru semenit, ada suara panggilan dari dalam rumah. Kentus dipanggil ayahnya. Juned dan Farhan tetap melanjutkan permainan di gawainya masing-masing. Tidak lama, Kentus keluar dan memanggil saudaranya si Juned.

"Ned dipanggil paman, ayo," kata Kentus. 

Dengan ekspresi penasaran, Juned manut masuk ke rumah. Farhan hanya sendiri di teras, tidak ada panggilan untuknya.

Meski begitu, bocah berkulit sawo matang itu berusaha tak menghiraukannya. Ia tetap fokus menatap LCD ponsel pintar, jarinya lincah memijit layar sambil menahan semerbak durian yang menggugah selera.

Beberapa menit kemudian, Kentus dan Juned keluar dari rumah. Juned dengan polosnya menjilati jari yang belepotan sisa daging durian.

Kentus sudah bersih dari bekas durian. Namun, bau masih menyengat dan tetap nikmat dihirup.

Farhan hanya diam, tidak berdaya hanya mencium aroma durian dari mulut kedua temannya. Permainan berakhir, Farhan pulang dengan wajah murung. Baginya itu amat menyakitkan. Dalam benaknya ia berjanji memiliki kebun durian puluhan hektare dan disumbangkan ke orang yang tak mampu beli durian.***

 

Bambang Pamungkas



Berita Terkait



Komentar