#KORUPSI#BERITALAMPUNG

Dua Terdakwa Korupsi BUMD Lampung PT LJU Divonis Berbeda

( kata)
Dua Terdakwa Korupsi BUMD Lampung PT LJU Divonis Berbeda
Ketua Majelis Hakim Efiyanto saat memimpin sidang vonis dua terdakwa korupsi BUMD Lampung PT LJU di PN Tanjungkarang, Rabu, 27 April 2022. (Lampost.co/Asrul Septian Malik)


Bandar Lampung (Lampost.co)  -- Dua terdakwa korupsi BUMD Provinsi Lampung, PT Lampung Jasa Utama (LJU),  yakni Direktur Utama PT Lampung Jasa Utama, Andi Jauhari Yusuf, dan pihak swasta/rekanan selaku Direktur PT Raja Kuasa Nusantara Alex Jayadi divonis berbeda.

Keduanya terbukti bersalah melanggar Pasal 2 Ayat (1) Undang-Undang Nomor. 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo Pasal 18 ayat (1) Undang-Undang Nomor. 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang  UndangNomor 20 Tahun 2001 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo Pasal 55 Ayat (1) Ke-1 KUHPidanajo Pasal 64 Ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.

Ketua Majelis Hakim Efiyanto mengatakan, Andi Jauhari Yusuf  divonis enam tahun enam bulan dan denda Rp300 juta subsider empat bulan penjara. Sedangkan Alex Jayadi divonis tujuh tahun penjara dan denda Rp300 juta subsider empat bulan penjara.

"Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa Andi Jauhari Yusuf dengan pidana penjara, enam tahun dan empat bulan," ujar Ketua Majelis Hakim Efiyanto di PN Tanjungkarang, Bandar Lampung, Rabu, 27 April 2022.

Andi juga dijatuhi pidana membayar uang pengganti Rp1.125.000.000 dan paling lama dalam waktu satu bulan sesudah putusan ini berkekuatan hukum tetap, jika tidak membayar maka harta bendanya disita dan dilelang oleh jaksa untuk menutupi uang pengganti tersebut. Dengan ketentuan apabila terpidana tidak mempunyai harta benda yang mencukupi maka dipidana dengan pidana penjara selama tiga tahun.

Sementara Alex divonis membayar uang pengganti Rp2.033.671.737, paling lama dalam waktu satu bulan sesudah putusan ini berkekuatan hukum tetap, jika tidak membayar maka harta bendanya disita dan dilelang oleh Jaksa untuk menutupi uang pengganti tersebut dengan ketentuan apabila terpidana tidak mempunyai harta benda yang mencukupi maka dipidana dengan pidana penjara selama tiga tahun.

Putusan tersebut lebih rendah dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) yakni delapan tahun dan enam bulan. Terhadap putusan itu, JPU memilih pikir-pikir.

Andi dan pelaku lainnya yakni Direktur Umum dan Keuangan PT LJU Ria Aswantari (meninggal 2016) merugikan keuangan PT LJU Rp1,125 miliar untuk proyek pembangunan Gedung DPR/MPR  RI yang ternyata fiktif.

Kemudian, Andi Jauhari bekerjasama dengan PT Raja Kuasa Alex Jayadi, terkait permodalan batu dan split.

Perusahaan Alex pun disuntik permodalan dan terjadi perjanjian keuntungan. PT Raja Kuasa pun menjadi suplier material bangunan ke salah satu perusahaan yakni pembayaran tidak maksimal. Sebab sebagian material yang diberikan tidak sesuai spesifikasi.

Dari Rp7.634.402.324 penyertaan modal LJU, PT Raja Kuasa hanya mengembalikan Rp5.428.774.263 sehingga PT LJU dirugikan Rp2.033.671.737. 

Baca juga: Dua Tersangka Korupsi PT LJU Segera Disidang Meski DPO

Bidang Intelijen Kejaksaan Tinggi Lampung mengklaim masih terus mengejar para Daftar Pencarian Orang (DPO), termasuk yang paling anyar yakni dua terdakwa korupsi BUMD Lampung PT LJU.

Asisten Intelijen (Asintel) Kejati Lampung Edy Winarko, mengatakan, pengejaran dan pencarian sudah dilakukan baik di Lampung maupun di luar Lampung. Andi Jauhari sendiri merupakan warga Bogor, Jawa Barat, sedangkan Alex Jayadi beralamatkan di Lampung Selatan.

Pada proses penyidikan juga Kejati Lampung sudah melakukan pemanggilan terbuka via surat kabar. Namun, keduanya tak juga merespons panggilan tersebut. Nama dan identitas mereka pun sudah dipajang di video trone Kejati Lampung.

"Bahkan, kami sudah kejar sampai Jawa Barat, tapi belum ketemu, kami sudah action," ujarnya.

Pihaknya juga sudah berkoordinasi dengam kejaksaan Agung, khususnya tim tangkap buron (tabur) 3:1, yang tersebar di seluruh Indonesia.

"Kami kirim (datanya) ke adhyaksa modern center (AMC), kami terus bekerja," katanya. 

Wandi Barboy







Berita Terkait



Komentar