#korupsi#benihjagung

Dua Terdakwa Korupsi Benih Jagung pada 2017 Dituntut Berbeda

( kata)
Dua Terdakwa Korupsi Benih Jagung pada 2017 Dituntut Berbeda
Sidang korupsi benih jagung di Pengadilan Negeri (PN) Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Tanjungkarang, beberapa waktu lalu. Lampost.co/Asrul Septian Malik


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Dua terdakwa korupsi benih jagung pada Direktorat Jendral Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Republik Indonesia yang dialokasikan untuk Provinsi Lampung Tahun Anggaran 2017 dituntut berbeda. Adapun kedua terdakwa yakni mantan Kadis Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Lampung Edi Yanto dan  Direktur PT Dempo Agro Pratama Inti, Imam Mashuri. Edi Yanto dituntut tujuh tahun dan enam bulan penjara sedangkan Imam Mashuri dituntut delapan tahun dan enam bulan penjara serta denda Rp500 juta subsidair tiga bulan. 


Jaksa Penuntut Umum (JPU) Volando menyebutkan, Edi Yanto terbukti melanggar Pasal 2 Ayat (1) Jo Pasal 18 Ayat (1) Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dan ditambah dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP jo Pasal 64 Ayat (1) KUHP.

"Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa Tujuh tahun dan enam bulan, menghukum terdakwa membayar denda sebesar Rp500 juta subsidair tiga bulan kurungan," ujar JPU saat membacakan tuntutan di PN Tipikor Tanjungkarang, Selasa, 11 Januari 2022.

Sementara Imam juga disebut melanggar Pasal 2 Ayat (1) Jo Pasal 18 Ayat (1) Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dan ditambah dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP jo Pasal 64 Ayat (1) KUHP.

Imam juga dijatuhi pidana tambahan berupa membayar Uang Pengganti sebesar Rp7.570.291.052,58, dengan ketentuan apabila tidak membayar uang pengganti dalam jangka waktu satu bulan setelah inkrah, harta bendanya akan disita. Apabila tidak mencukupi, diganti pidana penjara selama empat tahun dan enam bulan.

"Menyatakan uang sebesar Rp1.575.000.0000, yang telah disetorkan oleh terdakwa Imam melalui kode billing atas nama Dinas TPH Provinsi Lampung dan diperhitungkan seluruhnya sebagai pembayaran uang pengganti atas nama terdakwa," paparnya.

Baca juga: Nama Mantan Gubernur Lampung Dicatut dalam Sidang Korupsi Benih Jagung

Usai persidangan, baik Edi maupun Imam Mashuri akan mengajukan pembelaan secara tertulis pada sidang selanjutnya.

Dalam sidang sebelumnya, pada 30 Desember 2021, terdakwa Imam Mashuri menyebut seseorang bernama Ilham Mendrofa yang menyatakan adanya syarat penyetoran insentif atau fee dalam pengadaan benih.

Imam pun menyebut ada sekitar 400 ton pengadaan benih jagung Bima URI 20 dan ia kembali menyetor Rp2500 per kg ke Ilham.

"Ada pemberian ke Ilham, sekitar Rp1 Miliar (2500 x 400 ton)" jawab Imam.

Selain itu, Imam Mashuri menyebut pernah memberikan uang ke Edi Yanto yang ia lupa nominalnya. Namun, ditaksir hampir mencapai Rp20 juta. Kemudian, Imam Juga memberikan uang Rp10 juta ke kabid dinas terkait yakni Herlin Retnowati yang merupakan tersangka. Namun, Herlin telah meninggal sebelum persidangan.

"Hanya operasional saja (pemberian Edy dan Retno)," paparnya.

Selain Bima URI 20, Imam Mashuri ternyata pernah mendapat pengerjaan benih dengan varietas yang lain dengan jumlah ratusan ton. Adapun nominalnya mencapai Rp36 Miliar. Namun, tidak disebutkan apakah dia membayar fee atau tidak dari tiap kg benih.

Majelis hakim lainnya, Baharudin Naim pun berang dengan kesaksian, Imam Mashuri. Mengapa dalam berita acara pemeriksaan (BAP) penerimaan fee per kg tidak pernah disebut. Kemudian, hakim maupun JPU heran kenapa ada fee untuk Ilham Mendrofa, padahal dia bukan pihak dinas atau penyelenggara negara.

"Kenapa enggak diceritakan dari dulu, baru sekarang ?" tanya Majelis Hakim Baharundin Naim

"Takut, Yang Mulia sama Ilham," jawab Imam.

"Kenapa takut" tanya hakim.

"Dia ring 1, Yang Mulia," jawab Imam.

"Ring 1 siapa? tanya Hakim.

"Gubenur," Jawab Imam.

"Gubernurnya siapa" tanya Majelis Hakim.

"Ridho (M.Ridho Ficardo), Yang Mulia ," paparnya. 

Wandi Barboy








Berita Terkait



Komentar