kelahirannuansa

Dua Kelahiran

( kata)
Dua Kelahiran
dok Lampost.co

Wandi Barboy

Wartawan Lampung Post

DUA kelahiran dalam satu pekan ini sebagai titimangsa pijakan dalam menapaki dunia jurnalisme bagi saya secara personal. Pertama, pada 7 Agustus tahun ini, Aliansi Jurnalis Independen (AJI), organisasi tempat saya bernaung, merayakan hari jadinya yang ke-26. Sementara pada 10 Agustus di tengah pandemi, Lampung Post, perusahaan media tempat saya bekerja, menggelar hari ulang tahun (HUT) ke-46.

Entah suatu kebetulan atau tidak, tanggal milad keduanya berdekatan. Apa maknanya? Yang terang, dengan kedua usia itu (26 tahun dan 46 tahun) suatu usia yang bisa dikatakan perpaduan kedewasaan dan kematangan baik organisasi AJI maupun Lampung Post, media tempat saya bernaung dan berkhidmat menjalankan jurnalisme. Semoga panjang umur untuk keduanya.

Pada kolom Nuansa ini, izinkan saya mengutip keterangan tertulis ihwal jurnalisme di tengah pandemi. Berdasarkan keterangan tertulis AJI Indonesia, sejak diakui secara resmi masuk Indonesia pada Maret lalu, virus Covid-19 ini berdampak luas bagi media dan jurnalis di Indonesia.

Pemerintah berusaha mengatasi penyebaran wabah itu dengan melakukan sejumlah pembatasan wilayah, yang itu berdampak bagi ekonomi. Bagi media, dampak itulah yang menyebabkan perusahaan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK), efisiensi, dan tindakan penghematan lainnya.

AJI menilai pandemi ini memiliki dampak serius bagi pers saat ini juga masa depan. Dampak nyata dari pandemi tentu saja bisnis media yang tersaruk dan akan berakibat langsung pada kesejahteraan jurnalis. Dampak lainnya adalah pada kualitas jurnalisme karena banyaknya proses news gathering dengan cara daring.

Situasi inilah yang mendorong AJI memilih Jurnalisme di Era Pandemi sebagai tema HUT tahun ini. Di tengah bah informasi dan disrupsi media yang melanda ini, terbentanglah sayup-sayup hakikat jurnalisme yang dijabarkan Bill Kovach dan Tom Rosenstiel dalam bukunya The Elements of Journalism yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Yayasan Pantau menjadi Sembilan Elemen Jurnalismeapa yang seharusnya diketahui wartawan dan yang diharapkan publik (2006).

Ihwal Sembilan Elemen Jurnalisme, Anda bisa menemukan dan menelusurinya di bilah mesin pencari. Ada satu tambahan lagi dalam buku terbaru yang ditulis Kovach dan Rosenstiel, Blur, ihwal jurnalisme warga. Kini, warga biasa bisa juga menjadi pewarta. Sejauh mana kebenaran informasi itu? Saya tidak berhak menjawabnya. Di tengah sikon begini, saya hanya ingin terus menggaungkan dalam hati, "Hidup-hidupilah sembilan elemen jurnalisme." Semoga.

Setiaji Bintang Pamungkas



Berita Terkait



Komentar