#korupsi#hukum

Dua ASN Inspektorat Lamtim Pemeras Kades Terancam UU Korupsi

( kata)
Dua ASN Inspektorat Lamtim Pemeras Kades Terancam UU Korupsi
Penasihat hukum ASN Inspektorat yang Terjaring OTT saat dimintai keterangan di Kejati Lampung. Lampost.co/Febi Herumanika


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Kejaksaan Tinggi (Kejati) Lampung membenarkan ada pelimpahan tahap dua terhadap empat tersangka yang diduga melanggar pasal tentang korupsi. Keempat tersangka merupakan hasil tangkapan operasi tangkap tangan (OTT) Polda Lampung pada Juli lalu.

Kasi Penkum Kejati Lampung Andrie W Setiawan mengatakan dua di antara tersangka merupakan oknum aparatur sipil negara (ASN) Inspektorat Kabupaten Lampung Timur atas nama Himawan Santosa dan Hendri Widio Harjoko dan dua orang (sipil) turut serta atas nama Firmansyah dan Suparmin.

"Hari ini, Selasa, 13 oktober 2020, telah dilaksanakan pelimpahan tahap dua dari Polda atas perkara tindak pidana korupsi yang dilakukan dua oknum ASN Inspektorat Lampung Timur atas nama Himawan Santosa dan Hendri Widio Harjoko dan dua orang turut serta atas nama Firmansyah dan Suparmin," kata Andrie.

Perbuatan tersebut, kata mantan Kasi Intel Kejari Bandar Lampung ini, dilakukan dengan modus terdakwa Firmansyah selaku oknum ormas dengan dibantu Suparmin selaku pokja menakut-nakuti korban selaku kepala desa atas laporan terdakwa Firmansyah terkait pungutan PTSL di desa korban. "Laporan terdakwa Firmansyah ditujukan kepada Inspektorat Lamtim," kata Kasi Penkum.

Terdakwa Himawan Santosa selaku ASN dengan jabatan inspektur wilayah II di Inspektorat Lamtim bersama-sama terdakwa Hendri Widio Harjoko selaku ASN bekerja sama dengan terdakwa Firmansyah dan terdakwa Suparmin memeras korban untuk menyerahkan sejumlah uang agar laporan yang ditanggani Inspektorat Lamtim ditutup tidak dilanjutkan ke aparat penegak hukum.

Pasal yang didakwakan Pasal 12 huruf e atau Pasal 11 atau Pasal 5 Ayat (2) UU Nomor 20 Tahun 2001 jo UU No 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHPidana. "Barang bukti yang dilimpahkan di antaranya uang dan alat komunikasi," ujarnya.

Irwan Apriyanto, penasehat hukum terdakwa Himawan Santosa, usai mendampingi kliennya di Kejati Lampung mengatakan kliennya sebetulnya tidak ditangkap pada saat OTT namun ditangkap di luar. "Klien saya ini tidak terkena OTT, pada saat itu dia di luar kejadiannya, jadi tidak pas OTT. Dia disangka memerintah tetapi semua itu sudah disangkal, untuk lebih jelasnya nanti pas di persidangan lah ya," katanya.

Sebetulnya, kata Irwan, dia (Himawan Santosa) ingin menuntaskan persoalan dengan kepala desa ini karena hingga saat ini pemeriksaannya belum tuntas dengan masyarakat di desa itu. Pada saat dia ingin memeriksa ada persoalan hukum (OTT).

" Hari ini betul dilimpahkan, mengenai isu mereka akan dibebaskan tidak benar dugaan itu buktinya hari ini Polda melemparkannya," ujarnya.

Pada saat kejadian OTT, lanjut Irwan, kliennya berada di rumah sakit karena ada yang menyebut dia diikutsertakan dalam penangkapan dari hasil pengembangan. "Padahal dia tidak membawa uang itu, dia tidak tahu nilai uangnya berapa, dia tidak tahu menahu," katanya.

Muharram Candra Lugina







Berita Terkait



Komentar