#Rempah#LadaLampung#Perkebunan

DRI Dorong Lada Lampung Kembali Berjaya

( kata)
DRI Dorong Lada Lampung Kembali Berjaya
Sosialisasi tata kelola lada dan implementasi indikasi geografis lada hitam Lampung di Ruang Sungkai Balai Keratun, Senin, 26 Agustus 2019. (Foto: Lampost/Triyadi Isworo)


BANDAR LAMPUNG (Lampost.co) -- Lada merupakan komoditas andalan perkebunan penghasil devisa negara, sumber pendapatan, penciptaan lapangan kerja, mendukung agribisnis dan agroindustri. Maka dari itu semua pihak harus mendorong untuk mengembalikan kejayaan lada di Lampung 

Dewan Rempah Indonesia (DRI) Wilayah Lampung, Untung Sugiatno mengatakan pada 2017 luas area tanaman lada di Provinsi Lampung mencapai 45.778 Ha dengan produksi mencapai 13.771 ton lada hitam, produktivitas 449 kg/Ha dan jumlah petani yang terlibat 62.525 KK. Perkebunan lada di Provinsi Lampung sepenuhnya berupa perkebunan rakyat 

Permasalahan terkait lada meliputi produktivitas dan produksi saat ini rendah, harga lada dipasaran dunia sangan fluktuatif dan cenderung rendah, terjadi alih fungsi lahan dan komoditas menjadi karet, kelapa sawit, kakao. Kemudian juga mutu dan kualitas produk masih asalan/rendah

"Produk lada hitam Lampung sangat tergantung dari pasar dunia," katanya saat acara sosialisasi tata kelola lada dan implementasi indikasi geografis lada hitam Lampung di Ruang Sungkai Balai Keratun, Senin, 26 Agustus 2019.

Pihaknya terus mendukung kebijakan pemerintah mengembalikan kejayaan rempah-rempah tanah air (salah satunya lada). Maka koordinasi dan konsultasi dengan pihak pusat harus dilakukan, pemerintah harus bermitra untuk mewujudkan visi-misi Rakyat Lampung Berjaya, ikut mensosialisasikan penerapan GAP, GHP, dan GMP kepada petani lada di Lampung.

"Sesuai dengan tujuan DRI, agar dapat mensinergikan seluruh kegiatan agribisnis rempah kepada pemerintah pusat, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, dan stakeholder lainnya untuk mengembalikan kejayaan lada Lampung," katanya. 

Perwakilan dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Lampung, Robert Asnawi mengatakan saat ini para petani khawatir terkait lada yang bakal punah karena pemasarannya sudah lesu. Kemudian para semua pihak harus berbenah membangkitkan kembali semangat untuk membuat lada berjaya.

"Harga lada ini fluktuatif, ditahun 2016 harganya Rp 52 ribuan/kg, ditahun 2017 harganya Rp. 80 ribuan/kg, ditahun 2018 harganya Rp 32 ribuan/kg, dan ditahun 2019 harganya mencapai Rp. 28 ribuan/kg," katanya.

Ia mengatakan pihaknya telah melakukan survei jejak pendapat dimasyarakat bahwa para petani ingin harga lada terus stabil diangka Rp. 85 ribu/kg. Bahkan pada saat lada masih berjaya, para petani pernah menjual laga diharga Rp. 106 ribu/kg. "Saat ini permasalahan yang dilanda petani seperti terserang penyakit dan kekeringan yang bisa merusak lada," katanya.

Triyadi Isworo







Berita Terkait



Komentar