#HARGAGABAH#PERTANIAN#BERITALAMSEL

DPRD Lamsel Angkat Bicara soal Harga GKP Tidak Stabil

( kata)
DPRD Lamsel Angkat Bicara soal Harga GKP Tidak Stabil
Anggota Komisi IV DPRD Provinsi Lampung, Nurul Ikhwan saat menggelar reses di Desa Bangunan, Kecamatan Palas, Kamis 6 Mei 2021.


Kalianda (Lampost.co) -- Anggota Komisi IV DPRD Provinsi Lampung, Nurul Ikhwan, angkat bicara terkait persoalan harga gabah kering panen (GKP) yang tidak stabil di Kecamatan Palas, Lampung Selatan. Politikus dari Partai PDI perjuangan itu meminta pemerintah turun tangan atasi merosotnya harga GKP tersebut.

“Mau enggak mau semua harus bersama-sama turun langsung, baik dinas pertanian kabupaten maupun provinsi. Jangan selalu petani yang dirugikan setiap musim panen,” ujar Nurul Ikhwan usai menggelar kegiatan reses di Desa Bangunan, Kecamatan Palas, Kamis 6 Mei 2021.

Nurul mengatakan, seharusnya langkah pemerintah yang paling ideal mengatasi hasil pertanian yang kerap tidak stabil setiap musim panen yakni, membentuk Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) pertanian. Kemudian, langkah cepatnya pemerintah harus menggandeng Bulog supaya membeli hasil pertanian sesuai dengan Harga Pokok Penjualan (HPP).

"Hanya saja degan kondisi saat ini untuk mewujudkan upaya ini membutuh waktu dan proses yang panjang. Mau enggak mau ya pemerintah harus menggandeng Bulog agar segera membeli gabah dari petani," kata dia.

Selain itu, kata Nurul Ikhwan, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) juga seharusnya diminta berperan dalam mengatasi keluhan petani, khususnya soal harga GKP. BUMDes semestinya memiliki unit usaha yang bisa membeli hasil pertanian di desanya sendiri.

"BUMDes sebenarnya bisa juga berperan untuk membeli hasil petani, walaupun skalanya hanya didesa. Jadi, hasil panen bisa dibeli oleh BUMDes," kata dia.

Nurul berharap para kelompok tani bisa berinovasi untuk mendorong petani dapat lepas dari jeratan para tengkulak dengan pinjaman modal bunga tinggi.  Padahal, sudah banyak produk simpan-pinjam dengan bunga yang rendah.

“Harapan saya petani juga harus mengubah mindset, agar bisa terlepas dari para tengkulak. Saat ini banyak produk simpan pinjam di Bank dengan bunga yang rendah, seperti kredit usaha rakyat," kata dia.

Sementara itu, berdasarkan informasi yang dihimpun Lampost.co, dari sejumlah petani di Kecamatan Palas harga GKP saat ini hanya berkisar Rp3.200 hingga Rp3.500 per kilogram. Bahkan, beberapa petani terpaksa harus menunggu pembayaran hasil panen dari tengkulak hingga dua pekan setelah dipanen. 

 

Wandi Barboy







Berita Terkait



Komentar