#beritalampung#beritadaerah#lampung#Pringsewu

DPRD Kecewa Balai Benih Ikan Pringsewu Tak Berfungsi

( kata)
DPRD Kecewa Balai Benih Ikan Pringsewu Tak Berfungsi
Komisi II DPRD Pringsewu kecewa saat cek BBI di kecamatan Gadingrejo. Dok

PRINGSEWU (Lampost.co) -- Komisi II DPRD Pringsewu kritisi tak berfungsinya Balai Benih Ikan (BBI) milik Dinas Perikanan Kabupaten Pringsewu. Bangunan yang telah dibangun hingga miliaran tersebut, bahkan terkesan mangkrak.

Padahal bangunan yang terdiri dari kolam pembibitan, laboratorium, balai pertemuan termasuk kolam pembibitan yang baru saja diperbaiki, aquarium besar, tampak tidak bisa memberikan manfaat kepada masyarakat khususnya petani ikan.

"Kami sanga kecewa, sebab BBI yang seharusnya menjadi tempat pembibitan, justru malah kumuh tidak tertata dengan rapih. Belum lagi laboratorium mangkrak beberapa fasilitas tidak difungsikan," ungkap Sekretaris Komisi II Anton Subagio saat melakukan sidak, di lokasi yang beralamat di Pekon Tulung Agung Kecamatan Gadingrejo, Kabupaten Pringsewu, Kamis 17 Oktober 2019.

Menurut Anton, harus ada manajemen yang baik jangan tiap tahun dianggarkan tapi tidak ada hasilnya. "Kalau misalnya SDM yang kurang ayo dibenahi supaya tidak ada alasan ini itu," ungkapnya.

Bahkan Komisi II Asita Nurgaya mempertanyakan proses pembangunan fasilitas di lokasi BBI diantaranya penambahan kolam pembibitan, pemasangan kerangka baja dan termasuk pembangunan jalan ke lokasi BBI. "Kenapa dibangun terus kalau yang ada juga mangkrak, kalau tidak ada manfaatnya tidak usah dibangun habis-habisin anggaran aja," paparnya.

Sementara KUPT BPBI Sunaryoto berdalih tidak terurusnya lokasi tersebut karena minimnya tenaga petugas. Dia mengatakan saat ini hanya ada tiga petugas sedangkan normalnya minimal ada 5 petugas. Menurutnya luas lokasi BBI 1,7 hektar yang didalamnya 18 kolam dan sejumlah bangunan. 

"Tahun ini ada pembangunan dua kolam, renovasi 12 kolam, pembuatan baja ringan serta pembangunan jalan menuju BBI. PAD Dinas Perikanan hanya Rp10 juta/tahun.

Bahkan dari informasi yang dihimpun ternyata sejak Januari 2019 sampai sekarang belum berfungsi.

Sementara salah seorang Petani Ikan Pagelaran, Rimanto saat dimintai keterangannya, Jumat 18 Oktober 2019, menyatakan BBI Dinas minim peran. Mereka hanya memberi bantuan berupa benih hingga pakan jika ada proyek itupun sifatnya eksidental. Padahal petani ikan butuh benih setiap saat tetapi BBI sudah bertahun-tahun tidak berfungsi.

"Jadi untuk mendapatkan benih ikan, petani mencari sendiri (mandiri). Untuk benih nila misalnya harus ke Gunungmegang Pulau Panggung Tanggamus, benih patin harus Metro, Sidomulyo Kalianda, benih lele dan  emas memang dari Pagelaran. Bahkan sebagian untuk cari benih harus ke Jawa Barat," kata dia. 

Rimanto juga mempertanyakan SDM BBI, sebab kalau alasanya keterbatasan SDM mengapa tidak melakukan kerjasama dengan pihak ketiga/petani. "Banyak petani yang sudah ahli tetapi tidak dilibatkan," ungkapnya.

Sementara Ketua Unit Pelayanan Pengembangan (UPP) Pringsewu Fajar menyatakan setiap bulannya petani butuh tiga juta benih ikan emas, sementara lokal hanya mampu memenuhi 50 persenya, terpaksa sisanya harus cari keluar daerah.

Fajar menyatakan masih banyak petani beli benih ikan ke Subang, bahkan dalam sebulan penghasilan pembenihan di Subang dari Lampung mencapai Rp200 juta. "Kita ingin potensi itu kita ambil sehingga yang tidak keluar Peingsewu," ungkappnya.

Fajar berharap pemerintah memaksimalkan BBI sehingga kebutuhan petani bisa terpenuhi.

Widodo

Berita Terkait

Komentar