uniladesen

Dosen Teknik Unila Latih Warga Buat Sistem Pemanen Air Hujan

( kata)
Dosen Teknik Unila Latih Warga Buat Sistem Pemanen Air Hujan
dok Lampost.co

BANDAR LAMPUNG (lampost.co) -- Tim Dosen Teknik Sipil Universitas Lampung (Unila) melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat mengadakan kegiatan pengabdian masyarakat dengan melatih warga Kelurahan Rajabasa, Bandar Lampung membuat desain sistem pemanenan air hujan, Sabtu, September 2020.

Tim dosen yang terdiri dari Dr. Rahayu Sulistyorini, ST., MT., Gatot Eko Susilo, S.T.,M.Sc.,P.hD. dan Siti Anugrah Mulya Putri Ofrial,S.T.,M.T. melakukan pengenalan dan pelatihan pembuatan desain sistem pemanenan air hujan (rain water harvesting), sebab saat ini kekeringan kerap menjadi masalah serius di perkotaan, termasuk Bandar Lampung saat musim kemarau tiba. Sebaliknya, pada saat musim penghujan sering terjadi banjir.

Ketua tim dosen Teknik Sipil Unila, Dr. Rahayu Sulistyorini, ST., MT. menjelaskan istilah memanen air hujan (rain water harvesting) merupakan bagian dari drainase ramah lingkungan pada bagian tampung dan resapkan. Air hujan ditampung untuk dipakai sebagai sumber air bersih dan perbaikan lingkungan hidup, dan diresapkan untuk mengisi air tanah. Efek memanen air hujan di antaranya ialah berkurangnya banjir dan kekeringan, berkurangnya masalah air bersih dan penurunan muka air tanah, hingga berkurangnya masalah lingkungan.

Berdasarkan data bidang kedaruratan dan logistik BPBD Kota Bandar Lampung pada Desember 2019 beberapa titik rawan banjir di Bandar Lampung ada di daerah Jalan Hi Komarudin Rajabasa; Jalan ZA Pagar Alam; Jalan Pramuka Rajabasa; Jembatan Sungai, Gang Citra, Kelurahan Rajabasa raya; Gang Nunyai, Rajabasa; serta depan Terminal Rajabasa. Disatu sisi saat musim kemarau panjang melanda sebagian wilayah Lampung, membuat warga kesulitan mendapatkan air untuk kebutuhan sehari-hari. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bandar Lampung mendata delapan kecamatan di kota ini terpapar krisis air. Untuk itu kegiatan pengabdian masyarakat dilaksanakan di salah satu daerah yang rawan kekeringan, yaitu di Rajabasa.

“Kegiatan ini merupakan rintisan penanaman kesadaran bagi masyarakat kota Bandar Lampung dimulai dari warga kecamatan Rajabasa untuk diberi pemahaman melalui penyuluhan dan ketrampilan membuat desain bangunan penampung air hujan di halaman rumah mereka,”ujar Rahayu, Selasa, 15 September 2020.

Diharapkan setelah kegiatan ini masyarakat di Kecamatan Rajabasa dapat menjadi contoh bagi penerapan di daerah lainnya untuk ketersediaan air. 
Rahayu menekankan, pemanenan air hujan bermanfaat untuk memenuhi permintaan air tawar (bersih) yang semakin meningkat, mengisi ulang air tanah, mengurangi limpasan permukaan (runoff) yang memenuhi saluran drainage dan untuk menghindari banjir atau genangan di jalan-jalan. Selain itu juga untuk mengurangi erosi tanah di daerah perkotaan serta menyediakan swasembada pasokan air dan untuk melengkapi kebutuhan air domestik selama kondisi musim kemarau dan kering.

“Jika sistem ini ini terlaksana selain akan meningkatkan taraf hidup masyarakat karena hemat listrik, hemat cadangan air tanah dan mencegah banjir. Efektifitasnya bisa mencapai 40 % untuk memenuhi kebutuhan air keluarga. Dari 365 hari, setidaknya 40 persennya tercukupi oleh cadangan air hujan tersebut,” pungkas Rahayu.

Setiaji Bintang Pamungkas



Berita Terkait



Komentar