#KriminalDosenPembunuh#Makasar

Dosen Pembunuh Didakwa Pasal Berlapis

( kata)
Dosen Pembunuh Didakwa Pasal Berlapis
Terdakwa pembunuhan staf Universitas Negeri Makassar (UNM), Wahyu Jayadi, saat menjalani sidang perdana di Pengadilan Negeri Gowa, Sulawesi Selatan, Rabu 14 Agustus 2019. Medcom.id/Muhammad Syawaluddin.

MAKASSAR (Lampost.co) -- Terdakwa kasus pembunuhan staf Universitas Negeri Makassar (UNM), Wahyu Jayadi, didakwa dengan pasal berlapis dan pembunuhan berencana. Ia diancam hukuman mati.

"Terdakwa sebagaimana diatur didakwa pasal 340 KUHP subsider, 338 KUHP lebih subsider lagi pasal 351 ayat 3 KUHP," kata Jaksa Arifuddin Ahmad, saat membacakan dakwaan di Pengadilan Negeri Gowa, Sulawesi Selatan, Rabu, (14/8/2019).

Wahyu didakwa pasal berlapis lantaran telah melakukan pembunuhan berencana terhadap Siti Zulaeha Djafar, rekan kerjanya pada 21 Maret 2019.Dalam dakwaan yang dibacakan oleh jaksa, Wahyu diduga telah menganiaya yang menyebabkan Siti meninggal dunia.

"Bermula saat terdakwa menelpon korban meski tidak dijawab oleh korban. Namun, korban menelpon balik dan meminta untuk bertemu," katanya.

Keduanya kemudian bertemu di Jalan Andi Pangeran Pettarani, Makassar, Sulawesi Selatan, dan menuju ke Jalan Alauddin, untuk memarkir mobil. Korban kemudian meminta terdakwa untuk naik ke mobil miliknya agar bisa bercerita dengan sang dosen tersebut.

Setelah, berbicara sebentar, keduanya kemudian berjalan dengan menggunakan mobil milik korban. Saat itu Wahyu yang memegang kemudi memacu mobil menuju Danau Mawang, dan terus ke Jalan Poros Macanda, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.

"Sepanjang perjalanan korban membahas pekerjaannya dan membahas pekerjaan terdakwa di kantor. Serta urusan pribadi terdakwa," kata Arifuddin.

Terdakwa yang kesal karena semua urusan, baik pekerjaan maupun pribadinya diurusi korban kemudian marah dan meminta agar Zulaeha tidak terlalu dalam mencampuri urusannya. Namun, korban tetap ngotot dan juga emosi.

"Terjadi pertengkaran. Korban menampar terdakwa satu kali dan mengenai bahu sebelah kiri terdakwa. Sehingga terdakwa semakin emosi dan menghentikan kendaraan di STTP Romang Lompoa," jelasnya.

Disitulah terdakwa menghabisi korban dengan memukul dan mencekik leher korban hingga staf Universitas Negeri Makassar tersebut menghembuskan nafas terakhirnya. Terdakwa kemudian membuat seolah-olah tewasnya Siti itu karena ulah begal dengan memecahkan kaca mobil.

Dari hasil forensik, penyebab kematian korban adalah kegagalan pernafasan akibat penekanan benda tumpul yang kuat pada tulang leher, terutama pada batang tulang rawan tiroid.

Medcom.id

Berita Terkait

Komentar