#bom#beritanasional#kerusuhan#dosenipb

Dosen IPB Membuat Tujuh Bom Molotov

( kata)
Dosen IPB Membuat Tujuh Bom Molotov
Ilustrasi tersangka. Foto: Medcom.id

JAKARTA (Lampost.co) -- Dosen Institut Pertanian Bogor (IPB) Abdul Basith disebut terlibat kerusuhan saat unjuk rasa mahasiswa pada 24 September 2019. Abdul disebut membuat tujuh bom molotov untuk aksi itu.
 
Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Polda Metro Jaya, Kombes Argo Yuwono, menjelaskan kasus ini bermula saat tersangka berinisial SS, SN, SO, dan YD menggelar pertemuan di kawasan Ciputat, Tangerang Selatan pada 20 September 2019. Pertemuan menyepakati bakal membuat kerusuhan memanfaatkan momen unjuk rasa.
 
"Pemufakatan untuk membuat suatu kejahatan yaitu mendompleng unjuk rasa, yaitu untuk membuat chaos, pembakaran, dan sebagainya," kata Argo di Mapolda Metro Jaya, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Selatan, Jumat, 18 Oktober 2019.

Argo menyebut dalam rapat ditunjuk eksekutor pembuat bom molotov dan pencarian koordinator massa dari kalangan mahasiswa. YD menunjuk Abdul Basith membuat bom molotov.
 
Abdul menyetujui permintaan itu. Ia meminta uang Rp800 ribu sebagai dana meracik bom molotov. Bom dibuat di rumah tersangka lain berinisial HLD di Jakarta Timur.
 
Abdul membuat tujuh bom molotov. Peledak itu kemudian digunakan di daerah Pejompongan, Jakarta Pusat.
 
Tujuh bom molotov itu dibagi kepada tiga tersangka. Dua buah untuk tersangka ADR, tiga buah dibawa tersangka YD dan dua buah untuk tersangka KSM yang berstatus DPO.
 
“Tiga bom molotov dipegang YD dilempar ke petugas dua biji dan satu biji untuk bakar ban. Ada barang bukti yang masih sisa, belum dibuat, ada botol yang mau dibuat molotov," kata Argo.
 
Para tersangka disangkakan melanggar Pasal 187 bis Pasal 212 KUHP, Pasal 214 KUHP, dan Pasal 218 KUHP.

Medcom

Berita Terkait

Komentar