#ADHIV#bermain

Dobrak Stigma ADHIV Lewat Main Denganku Yuk!

( kata)
Dobrak Stigma ADHIV Lewat Main Denganku Yuk!
Atiqah Hasiholan bermain bersama dengan ADHIV dalam kegiatan Main Denganku, Yuk! - MI/Dede Susianti

BERINTERAKSI atau bahkan bermain dengan Anak dengan HIV (ADHIV) tidak menimbulkan resiko penularan HIV. Kontak sosial dengan ADHIV. seperti berpelukan, bersentuhan, dan berbagi alat makan pun tak akan menularkan HIV. 
 
Hal itu menjadi pesan bagi masyarakat dalam ajang "Main denganku, Yuk1 yang digagas sejumlah orang lintas profesi dengan mengajak ADHIV bermain bersama di Taman Budaya, Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Minggu (28/7/2019). 
 
Kegiatan yang melibatkan juga sejumlah figur publik seperti aktris Atiqah Hasiholan dan suaminya, Rio Dewanto itu didukung penuh oleh Lentera Anak Pelangi yang merupakan program pendampingan ADHIV di DKI Jakarta dan Yayasan Tegak Tegar. 
 
"Kita dari berbagai macam profesi, ada dokter, jurnalis seperti saya di Metro TV, ada yang bergerak di properti, pengusaha. Kita gak mikir nama atau yayasan. Kita kumpulan orang-orang yang merasa peduli dengan ADHIV," kata Rory Asyari, jurnalis MetroTV yang juga jadi salah satu penggagas acara. 
 
Lewat ajang Main Denganku, Yuk!, Rory berharap, ADHIV bisa merasakan kepedulian orang-orang di sekitar mereka yang akhirnya menimbulkan keberanian mereka untuk berekspresi serta mengasah kreatifitas.

Kegiatan Main Denganku, Yuk! diisi dengan menggambar dan bermain layangan bersama. Menurut Rory, Main denganku, Yuk!, bisa dijadikan model untuk diimplementasikan secara nasional dan menunjukkan bahwa main dengan anak-anak dengan HIV itu tidak ada resiko untuk menularkan.

Menurut dr Adiyana Esti, salah satu penggagas Main denganku, Yuk! lainnya, kegiatan tersebut sebagai salah satu upaya mendobrak stigma dan diskrimnasi terhadap ADHIV. 
 
Dia mengatakan, stigma dan diskrominasi menjadi penyebab utama hak anak dengan HIV dilanggar, serta menghambat penanggulangan HIV/AIDS. Diantaranya hak untuk bermain dan belajar, hak diperlakukan setara, hak berekspresi, dan hak berprestasi.

Dia menjelaskan, sama seperti anak lainnya, ADHIV juga memerlukan dukungan sosial untuk tumbuh. Selain dengan tidak mendiskriminasi mereka, dukungan dapat berupa menciptakan lingkungan bermain dan belajar yang inklusif.

Di saat anak belum dewasa dan memahami apa yang terjadi dengan dirinya, lanjutnya, stigma dan diskriminasi terhadap mereka, menambah beban psikologis. Terlebih ketika mereka harus bergelut dengan kondisi kesehatannya.

"Stigma dan diskriminasi masyarakat terhadap ADHA adalah karena kurangnya pemahaman masyarakat. Padahal kontak sosial, termasuk bersentuhan, berpelukan dan berbagi alat makan, tidak menularkan HIV. Main denganku yuk, ingin mengajak siapapun bermain dengan ADHIV dan mengembalikkan hak mereka untuk bermain. Jangan sampai atau kita tidak ingin ada kejadian seperti di Solo lagi, tidak ingin ada kejadian seperti di Samosir lagi," ungkapnya.
 

MI

Berita Terkait

<<<<<<< .mine <<<<<<< .mine
loading...
||||||| .r621 ||||||| .r626 ======= >>>>>>> .r627
<<<<<<< .mine
loading...
=======
>>>>>>> .r624
||||||| .r626 ======= >>>>>>> .r627

Komentar