#opini#doa

Doa dan Inkuirnya Allah

( kata)
Doa dan Inkuirnya Allah
Ilustrasi berdoa. (Dok/Google Images)

PERJALANAN hidup manusia di dunia tidak terlepas dari menghadapi berbagai macam masalah hidup, mulai dari masalah ekonomi, keluarga, pekerjaan, pendidikan, hingga masih banyak lagi masalah hidup yang lainnya. Manusia menurut kemampuannya dituntut untuk mampu menyelesaikan masalah. Namun, selesai masalah yang satu, manusia akan dihadapkan kembali dengan masalah yang lain, begitu juga seterusnya.

Untuk menyelesaikan masalah, banyak jalan yang dapat ditempuh oleh manusia, baik itu masalah yang besar maupun masalah yang kecil. Sering dijumpai manusia yang memaksakan menyelesaikan masalah dengan mengandalkan kekuatannya sendiri. Manusia berpikir dengan kemampuannya sendiri dapat menyelesaikan masalah hidup yang dihadapi.

Namun, ada juga sebagian manusia yang berusaha melibatkan Sang Pencipta, yaitu Allah, dalam menyelesaikan masalahnya; menggunakan pendekatan religius. Salah satu pendekatan religius yang sering ditempuh adalah dengan berdoa.

Hakikat Doa

Doa pada dasarnya adalah bentuk pengakuan diri atas kelemahan yang dimiliki manusia di hadapan Sang Pencipta. Melalui doa ini, manusia berharap ada bantuan dari Allah Sang Mahakuasa untuk dapat membantu menyelesaikan masalah yang dihadapi atau mengabulkan permintaan dari berbagai keinginan manusia.

Doa juga merupakan bentuk ketidaksombongan manusia tentang apa yang sudah dimiliki. Jauh lagi, doa adalah salah satu ukuran puncaknya keimanan seseorang. Di sisi lain, doa juga dapat menjadi ujian keimanan seseorang. Mengapa demikian? Sebab, apabila doa tidak dimaknai dengan positif, akan berpengaruh terhadap perilaku manusia itu selanjutnya.

Dalam kehidupan sehari-hari, sering kita temukan keluhan baik dari kawan, anak-anak kita, orang tua, kerabat, atau yang lainnya tentang hasil dari berdoa. Hasil setelah seseorang tersebut berdoa kepada Allah. Wah, doa saya tidak terkabul, wah doa saya masih tertunda, dan masih banyak lagi persepsi lain dalam menilai doa yang telah dilantunkan.

Tentu, kalau kita pahami, semua orang yang berdoa pasti mengharap doanya terkabul. Akan tetapi, perlu diingat bahwa tidak semua apa yang kita minta sesuai dengan apa yang kita butuhkan. Sebaliknya, apa yang tidak kita harapkan namun Allah berikan kepada kita itu buruk adanya. Inilah perlunya memaknai doaa secara baik.

Sebab, apabila doa itu tidak dimaknai dengan kebaikan, akan berdampak buruk bagi manusia yang berdoa. Bahkan, ada juga yang sampai enggan untuk berdoa kembali karena merasa doanya tidak dianggap oleh Sang Pencipta.

Inkuirinya Allah

Allah memerintahkan manusia untuk berdoa. Bukan untuk Allah, tetapi untuk manusia itu sendiri. Bagaimana Allah mengabulkan doa? Dalam Alquran Surah Al-Baqarah Ayat 186 yang artinya, “Dan, apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku. Maka, hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.

Allah akan mengabulkan doa hambanya yang meminta kepada-Nya sesuai dengan syariat Allah. Namun, ada yang unik dalam perintah Allah ini, Allah mengabulkan doa hambanya tidak langsung memberi apa yang diinginkannya, tetapi dengan cara membimbing manusia hingga ia memperolehnya sendiri.

Allah tidak serta-merta langsung memberi apa yang diminta sebagai bentuk pengabulan doa. Akan tetapi, Allah tuntun supaya manusia itu dapat meraihnya sendiri. Allah mudahkan manusia dalam mencapai keinginanya dengan cara membimbingnya. Allah punya cara tersendiri untuk membimbing hambanya sebagai realisasi pengabulan doa.

Mengapa demikian? Allah menghendaki proses. Manusia dalam proses bimbingan Allah akan banyak memperoleh pelajaran. Sabar, kerja keras, pengorbanan, dan tentu banyak lagi pelajaran lain yang dapat diambil saat Allah membimbing hambanya yang berdoa sebagai jalan pengabulan doanya. Namun, hal ini terkadang belum disadari oleh manusia.

Sejarah memberikan pelajaran pada kita tentang pengabulan doa, Nabi Ayub as di uji dengan penyakit kulitnya dan berdoa, Nabi Yusuf as diuji oleh saudaranya yang membencinya kemudian berdoa, dan banyak lagi kisah dari sejarah nabi yang menggambarkan bimbingan Allah terhadap dikabulkannya doa-doa mereka.

Inilah inkuirinya Allah terhadap doa-doa kita yang dikabulkan apabila sudah sesuai dengan syariat Allah. Allah tidak langsung memberi atas apa yang kita minta melalui doa, tetapi Allah bimbing kita untuk menggapainya sebagai bentuk pengabulan doa kita.

Di akhir tulisan ini, tentu kita semua berharap kita dijauhkan dari sifat putus asa dalam menyelesaikan masalah kehidupan. Putus asa dari rahmat Allah, apalagi sampai menjauhkan Allah dari kehidupan kita dan kita hanya memaksakan kemampuan kita sendiri dalam menyelesaikan masalah hidup tanpa melibatkan Allah Sang Pencipta, Zat yang Mahakuasa atas kehidupan kita. Semoga kita tetap husnuzan terhadap pemberian Allah dan terhadap doa-doa yang kita lantunkan. Amin.

Bobi Hidayat/ Dosen FKIP UM Metro



Berita Terkait



Komentar