#narkoba

Dituntut Mati, Pengendali Sabu dari Penjara Bacakan Pledoi di PN Tanjungkarang

( kata)
Dituntut Mati, Pengendali Sabu dari Penjara Bacakan Pledoi di PN Tanjungkarang
Suasana persidangan di PN Kelas IA Tanjungkarang, Bandar Lampung, Selasa, 24 Mei 2022. Lampost.co/Asrul Septian Malik


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Sidang kasus peredaran puluhan kilogram sabu-sabu dengan terdakwa narapidana Lapas Kelas I Surabaya, M. Sulton, Nanang Zakaria (29), dan M. Razif Hazif (24) kembali digelar di Pengadilan Negeri (PN) Kelas IA Tanjungkarang.


Pada sidang sebelumnya, M. Sulton dituntut hukuman mati oleh Jaksa Penuntut Umum Umum (JPU) Roosman Yusa. Ssedangkan Razif dan Nanang dituntut penjara seumur hidup.

Kuasa Hukum M. Sulton, Agus Purwono membacakan secara langsung nota pembelaan atau pledoi Sulton. Agus menyebutkan, ada beberapa poin yang menjadi pokok dalam pembelaan terdakwa. Pertama, terkait fakta hukum di persidangan yang sama sekali tidak disampaikan pada surat tuntutan.

Selanjutnya,  kata dia, keterangan saksi penyidik dan saksi petugas LP Kelas 1 Surabaya dalam fakta hukum dihadirkan, namun dalam surat tuntutan sama sekali tidak dimasukkan. 

"Sedangkan fakta hukum yang terungkap dalam persidangan, penyidik menyatakan bahwa tidak pernah dilakukan kloning (alat komunikasi) dan tidak pernah ditunjukkan dalam persidangan," katanya, Selasa, 24 Mei 2022.  

Baca: Terdakwa Tak Bisa Hadir, Sidang Pledoi Pengendali Puluhan Kg Sabu Ditunda

 

Agus juga menyampaikan, saat itu memang dilakukan kloning oleh penyidik dan dinyatakan dalam persidangan, namun, penyidik tidak bisa membuktikan kebenarannya. Kemudian, saksi lain pun menerangkan bahwa saat di Lapas Kelas I Surabaya, terdakwa pernah diperiksa dan tidak didampingi penasihat hukum.

Lalu terkait barang bukti, sudah dijelaskan total seberat 97 kg, padahal menurutnya, setelah ditimbang hanya 92 kg (berat narkoba tanpa kemasan boks).

"Jadi dasar apa sehingga JPU menyimpulkan barang bukti 97kg, kemudian dalam surat tuntutan JPU ada keterangan saksi dari Kabeta dan Bagus yang mana keterangan saksi ini tidak pernah dihadirkan dalam persidangan," paparnya.

Usai membacaknan pledoi, JPU Roosman Yusa meminta Majelis Hakim memberikan waktu satu minggu untuk menyusun dan membacakan replik atau jawaban atas pledoi.

"Sidang ditunda pekan depan, Selasa, 31 Mei 2022," ujar Ketua Majelis Hakim Jhony Butar-Butar.

Terdakwa lainnya, Nanang dan Razif telah membacakan pledoi yang diwakili kuasa hukumnya Chandra Fery Irawan pada Selasa, 17 Mei 2022 lalu. Dalam pleodinya, para terdakwa meminta dihukum seringan-ringannya.

"Barang tersebut juga bukan milik terdakwa, tapi milik Soyfan yang berstatus DPO," paparnya.

Perbuatan ketiganya bermula saat M. Sulton yang merupakan narapidana mendapatkan perintah untuk mengendalikan peredaran sabu-sabu dalam jumlah besar oleh seseorang berinisial J yang berstatus buron.

Pada Februari 2021, Sulton memerintahkan Nanang dan pelaku berinsial S (DPO) untuk mencari indekos. Kemudian Nanang dan S diperintahkan mengambil sabu seberat 80 kg di Tanjung Balai. Sabu tersebut dikemas di indekos menjadi empat boks.

Nanang dan S pun berangkat ke Bandar Lampung. Empat boks sabu tersebut dititipkan di loket bus Pelangi Putra. Narkoba itu dibawa Nanang ke Cilegon, Banten.

Kemudian, Nanang pergi ke Taman Kota Cilegon membawa tiga boks berisi sekitar 60 kg sabu untuk diberikan ke beberapa orang atas perintah Sulton. Atas upaya tersebut, Nanang diupah Rp600 juta.

Sekitar Maret 2021, Sulton kembali memerintahkan Nanang ke Medan, Sumatera Utara untuk mengambil empat karung berisi 60 kg sabu serta satu bungkus besar ekstasi. Semuanya kembali dikemas Nanang menjadi empat boks.

Nanang pun membawa empat boks tersebut ke pangkalan Bus Putra Pelangi sedangkan ia mengendarai mobil Suzuki Swift seorang diri menuju Bandar Lampung. Terdakwa Razif turut menuju Bandar Lampung.

Keduanya menyewa kosan di Rajabasa, setibanya di Lampung. M. Sulton memerintahkan Razif dan Nanang membawa puluhan kg sabu ke Cilegon dan ke Surabaya sebanyak beberapa kali.

Pada awal September 2021, Nanang dan Razif kembali diperintah mengambil enam karung berisi 92 kg sabu di Tanjungbalai. Keduanya mengemas sabu tersebut ke dalam boks dan disamarkan dengan semen.

Setelah itu, keduanya menuju Bandar Lampung dengan boks berisi narkoba dititipkan via bus. Mereka pun kembali mencari indekos. Ketika hendak mengambil 92 kg sabu ke pangkalan bus di Bandar Lampung, keduanya ditangkap Ditresnarkoba Polda Lampung.  Tak berselang lama, Sulton pun ditangkap Polda di LP Surabaya.

Sulton telah berhasil mengirimkan 140 kg sabu ke pemesan, sedangkan upaya ketiganya berhasil digagalkan. 

Akibat perbuatannya, mereka didakwa melanggar Pasal 114 ayat (2) jo Pasal 132 ayat (1) Undang-Undang RI No.35 Tahun 2009 tentang Narkotika dengan ancaman maksimal pidana mati.

Sobih AW Adnan








Berita Terkait



Komentar