#banjir#bencanaalam#beritalamsel

Diterjang Banjir, Petambak Udang di Ketapang Merugi Ratusan Juta

( kata)
Diterjang Banjir, Petambak Udang di Ketapang Merugi Ratusan Juta
Tambak udang vaname di Ketapang, Lampung Selatan terendam banjir. Lampost.co/Aan Kridolaksono

Kalianda (Lampost.co): Hujan deras yang mengguyur wilayah pesisir timur Kabupaten Lampung Selatan sejak Senin, 4 Mei 2020, sore, membuat sejumlah aliran anak sungai yang ada di Kecamatan Ketapang meluap, Selasa, 5 Mei 2020. Akibatnya, ratusan hektare tambak udang warga yang siap panen dan sebagian telah menebar bibit hanyut diterjang banjir.

Bukan hanya petambak yang mengalami kerugian ratusan juta. Hujan deras semalaman itu juga membuat puluhan warga geram. Pasalnya bangunan rabat beton di Dusun I, Desa Ketapang seniai ratusan juta dari anggaran Desa Desa Tahun Anggaran 2019 lalu itu diduga sebagai penyebab banjir.

Selain itu, puluhan hektare tanaman padi siap panen dan puluhan rumah warga di Desa Ketapang, Legundi, Ruguk, Sumur, Pematangpasir, dan Sidoasih di Kecamatan Ketapang terendam banjir. 

Kejadian serupa yang pernah dialami pada akhir Desember 2019 lalu itu menambah duka bagi petambak udang vaname di tengah pandemi virus korona.

"Bencana banjir di tengah ekonomi lagi sulit akibat pandemi korona. Bencana banjir malah datang memupuskan harapan kami untuk bangkit dari keterpurukan. 
Sebab vaname yang ditebar petambak di pesisir timur Ketapang ini sebagian besar sudah siap panen,” kata Yanto (45), petambak udang di Ketapang, Lampung Selatan, Selasa, 5 Mei 2020, sore.

Menurut dia, hujan deras yang mengguyur wilayahnya sejak Senin, 4 Mei 2020, sore, mulai merendam enam kolam miliknya pada Selasa, 5 Mei 2020, pukul 09..00 WIB dan terus membesar. Akibatnya, enam kolam berisi udang vaname siap panen terendam air yang meluap melebihi tanggul kolam. 

"Mudah-mudahan tidak semua udang habis tersapu banjir. Jadi masih ada harapan untuk modal tanam kembali. Tapi kalau semua hilang bisa ditafsir kerugian mencapai Rp100 juta," ujar Yanto. 

Sementara itu, puluhan warga pesisir pantai Dusun I, Desa Ketapang, Kecamatan Ketapang justru menjebol bangunan rabat beton senilai Rp208,3 juta. Padahal pekerjaan yang digarap CV Bintang Akbar itu baru selesai akhir Desember 2019 lalu. 

Warga menilai banjir yang merendam rumah mereka diakibatkan oleh bangunan rabat beton yang tidak disertai dengan pembangunan drainase untuk saluran pembuangan air.

Adi Sunaryo



Berita Terkait



Komentar