#matriilegal#beritalambar#kesehatan

Ditangkap Polisi, Samiran Mengaku 37 Tahun Melayani Pengobatan dan Sunat

( kata)
Ditangkap Polisi, Samiran Mengaku 37 Tahun Melayani Pengobatan dan Sunat
Tersangka Samiran saat diamankan di kantor polisi. Lampost.co/Eliyah

Liwa (Lampost.co): Meski sudah ditetapkan menjadi tersangka dalam perkara kasus medis palsu alias mantri ilegal hingga mengakibatkan kelamin pasienya terputus saat disunat, Samiran, 69, mengaku tetap akan melanjutkan pekerjaannya sebagai mantri bila sudah selesai menjalani masa hukuman.

Bahkan belakangan ini sejak menghilang dari Pekon Roworejo setelah dilaporkan ke aparat hukum akibat kelamin WM terpotong saat disunatnya, Samiran ternyata telah menjalankan profesinya sebagai mantri di Kampung Curugpatah, Way Kanan.

"Kalau sudah selesai menjalani hukuman ini, nanti saya tetap akan melanjutkan pekerjaan ini dengan membuka praktik pengobatan maupun sunat. Tapi lebih hati-hati dan tempatnya juga di Way Kanan saja," kata Samiran saat ditanya Lampung Post di Polres Lambar, Jumat, 24 Januari 2020.

Samiran mengaku menjalani pekerjaan melayani pengobatan dan khitan sudah dilakukan sejak tahun 1982 di Pekon Roworejo, Suoh, Lambar.

Bekal yang didapat untuk melayani pengobatan dan khitan itu yakni telah belajar saat mengikuti pendidikan SPKc di 1979 selama 1 tahun dan lulus pada 1980. Kemudian belajar ilmu khitan (sirkum sisi) dengan dokter Mukhli Yusuf. Lalu belajar pengobatan umum saat ikut dokter Irwan Singagarda pada tahun 1981.

Dengan berbekal ilmu itu, lanjut Samiran, lalu dirinya membuka praktik di Suoh mulai tahun 1982. Dimana saat itu banyak masyarakat merasa kesulitan untuk berobat yang disebabkan wilayah disana sulit akses transportasi. Pekerjaanya itu, setiap bulan menghasilkan uang antara Rp1,5-2 juta.

Ia pun mengaku pernah diingatkan oleh anaknya untuk tidak meneruskan usaha pengobatan itu lagi. Bahkan anaknya, kata dia, pernah menyarankan lebih baik melayani pengobatan secara herbal saja. Akan tetapi lanjut dia, ia tetap melakukanya dengan alasan sudah terbiasa dengan apa yang sudah dijalaninya.

Ia mengaku, sejak melayani pengobatan sudah banyak orang sembuh. Bahkan yang disunat juga sudah lebih dari 300-an orang. Namun pada Juli 2019 lalu, ia mengaku pasien yang dikhitanya itu memiliki tingkat kesulitan yang tinggi dibanding yang lainnya.

"Sepertinya ada kelainan dimana kulit kelamin dengan bagian ujung kemaluanya terlalu melekat sehingga saat disunat bagian ujungnya terpotong," kata Samiran.

Akibatnya kini ia terpaksa mendekam di sel tahanan. Menurutnya, saat itu ia diminta untuk mengganti biaya operasi tetapi tidak memiliki biaya.

Samiran mengaku, kedepan jika sudah buka ia akan mengurus perizinan sesuai peraturan yang berlaku.

Samiran diamankan dari tempat persembunyianya di rumah mantan kepala Desa Kampung Curugpatah, Kecamatan Gununglabuhan, Kabupaten Way Kanan.

Berita terkait:

Alat Kelamin Terpotong Saat Sunat, Bocah di Lambar Lapor Polisi 

Kasat Reskrim AKP Made Silpa Yudiawan mendampingi Kapolres AKBP Rachmat Tri Haryadi mengatakan Samiran ditangkap di rumah mantan kepala Kampung Curugpatah, Kecamatan Gununglabuhan, Way Kanan pada Rabu, 23 Januari 2020.

Atas tindakan itu, kini tersangka dijerat Pasal 64 Undang-undang RI Nomor 36 Tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan dengan ancaman kurungan 5 tahun penjara.

Adi Sunaryo



Berita Terkait



Komentar