#dinaspertanian#plasmanutfah#kopirobusta

Distan Lampura Daftarkan Plasma Nutfah Kopi Ulung Gijul

( kata)
Distan Lampura Daftarkan Plasma Nutfah Kopi Ulung Gijul
Dinas Pertanian (Distan) Lampura melakukan pengkajian ciri daun varietas kopi robusta.

Kotabumi (Lampost.co) -- Guna mendukung  konservasi plasma nutfah varietas kopi lokal dari Kabupaten Lampung Utara, Dinas Pertanian (Distan) kabupaten setempat mendaftarkan varietas kopi ulung gijul dari Desa Gunung Gijul, Kecamatan Abung Tengah,  ke pusat perlindungan varietas tanaman dan perizinan pertanian (PPVTPP) Kementarian Pertanian (Kementan).

Kepala Seksi (Kasi) Pembenihan, Bidang  Perkebunan, Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Lampung Utara, Pahmi, di ruang kerjanya, Selasa, 11 Februari 2020 mengatakan di 2020, pihaknya mendaftarkan varietas kopi tersebut  ke PPVTPP, Kementan sebagai varietas kopi lokal asli Lampung Utara.

Upaya ini, untuk melindungi keberadaan plasma nutfah kopi itu dari ancaman kepunahan karena  penebangan tanaman kopi untuk alih fungsi komoditas perkebunan.

"Penebangan maupun alih fungsi lahan secara tidak langsung menjadi ancaman keberadaan plasma nutfah tanaman kopi  lokal asli Lampura  yang sangat kaya dan beragam"  ujarnya.

Ciri khas tanaman kopi ulung gijul, kulit buah kopinya berwarna kecoklatan saat mentah. Namun, warnanya berubah menjadi coklat kemerahan saat matang atau siap panen. Selain itu baik daun maupun batang kopinya, juga berwarna kecoklatan.

"Perbedaan antara kopi robusta dengan kopi ulung gijul, yakni; kulit kopi robusta berwarna hijau saat mentah, berwarna kuning saat setengah masak dan merah saat masak. Sedangkan untuk berwarna hijau. Kalau kopi ulung gijul, buah, ranting maupun daun, didominasi warna coklat" kata dia.

Terkait penelitian Morfologi tanaman kopi sebagai persyaratan pendaftaran plasma nuffah dan sumber daya genetik (SDG), tersebut; seperti ciri fisik, kondisi aglonemat, maupun kondisi ekosistem tanaman itu berkembang.

Pihaknya melibatkan tim balai pengkajian teknologi Pertanian (BPTP) Lampung dan balai besar pengkajian teknologi pertanian, badan penelitian dan pengembangan pertanian, Kementan.

"Saat pendaftaran varietas kopi, pihaknya melibatkan tetua-tetua kampung serta tokoh masyarakat di wilayah untuk mengetahui sejarah keberadaan ataupun asal varietas tanaman itu dulunya karena ini bagian dari kearifan lokal masyarakat" tuturnya.

 

Setiaji Bintang Pamungkas



Berita Terkait



Komentar