#hukum#wanprestasi

Direktur PT Graha Sentra Mulya Bantah Wanprestasi

( kata)
Direktur PT Graha Sentra Mulya Bantah Wanprestasi
Ilustrasi perumahan bersubsidi. (Foto: Istimewa)


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Direktur PT Graha Sentra Mulya, Lisa Silawati, menyebutkan tidak ada tindakan wanprestasi antara dirinya dan Mely Astuti.

Kuasa Hukum Lisa, Imron Suhada, mengatakan, tindakan wanprestasi tersebut belum tentu benar karena dalam proses persidangan di PN Kelas IA Tanjungkarang. Di situ, Mely menggugat kliennya ke pengadilan. Sejauh ini sidang agenda pembacaan kesimpulan berlangsung pada 23 Agustus 2021.

“Yang berhak menyatakan dan memutus apakah seseorang wanprestasi atau tidak, bukan gugatan. Tetapi, putusan majelis hakim yang telah inkrah," ujar Imron, melalui keterangan tertulis, Jumat, 27 Agustus 2021.

Menurutnya, kliennya tidak pernah ingkar janji. Hubungan Lisa dan Mely yakni kerja sama bagi hasil proyek pembangunan perumahan komersial. Imron menyatakan uang yang digunakan bukan hutang piutang, tetapi modal usaha bersama dengan kesepakatan bagi hasil keuntungan.

Baca juga: Wanprestasi Rp1,85 Miliar Digugat ke Pengadilan

Selain untuk pembiayaan proyek pembangunan perumahan, sebagian dana untuk membebaskan lahan perumahan yang berlokasi di Jl. Raden Fatah, Kelurahan Kaliawi, Kecamatan Tanjungkarang Pusat seluas 7.900 m2. Tanah tersebut  milik keluarga penggugat karena adanya karena kekurangan dana Rp350 juta.

"Penggugat menawarkan uang Penggugat dengan Perjanjian akan diberikan pembagian keuntungan. sebesar 10 % dari modal talangan," katanya.

Imron juga menjelaskan total penyertaan modal dari pihak penggugat yakni Rp2,12 miliar bukan dua miliar. Kemudian pandemi covid-19 mulai merebak pada Maret 2020 dan mengakibatkan pembangunan dan penjualan rumah komersial mulai macet. Dengan demikian, penjualan rumah terhenti dan mengakibatkan perusahaan tidak ada income dana sama sekali.

"Penggugat telah menerima sebagain pembagian hasil penjulan perumahan yang telah terjual dan telah menerima sebagian pengembalian pokok modal," paparnya.

Imron menambahkan aset lahan perumahan tersebut masih ada dan belum tergarap serta belum terjual. Menurutnya, penggugat tidak ada iktikad baik dalam proses kerja sama proyek perumahan. Saat pembangunan dan penjulan rumah masih lancer, penggugat selalu mendapatkan pembagian keuntungan sesuai kesepakatan. Sedangkan sebagian cicilan pengembalian modal juga telah dibayarkan.

“Tetapi, saat penjualan rumah menurun bahkan tidak ada penjualan sama sekali karena dampak covid-19, penggugat tidak mau tahu. Bahkan, menekan tergugat untuk mengembalikan modal penggugat yang nyata-nyata masih ada dalam bentuk aset tanah kapling," katanya.

Menurut Imron, penggugat masih memegang lima sertifikat tanah milik kliennya.

"Klien kami bersedia mengembalikan sisa modal Mely Astuti dengan cara menjual aset lahan perumahan yang masih ada. Nilainya jauh lebih besar dari uang penyertaan modal Mely Astuti atau Mely Astuti mengambil sebagian lahan yang ada sesuai dengan sisa modalnya," paparnya.

Wandi Barboy







Berita Terkait



Komentar