#dbd#penyakit

Dinkes Lamtim Imbau Warga Tingkatkan Kewaspadaan Serangan DBD

( kata)
Dinkes Lamtim Imbau Warga Tingkatkan Kewaspadaan Serangan DBD
Petugas Dinas Kesehatan Lampung Timur melalukan penyemprotan di Desa Banjarrejo, Kecamatan Batanghari, Senin, 13 Januari 2020. Lampost.co/Djoni Hartawan Jaya


Sukadana (Lampost.co) – Tiga belas hari memasuki 2020, tercatat sudah tujuh warga Lampung Timur dilaporkan terserang penyakit demam berdarah dengue (DBD). Dinas Kesehatan Lamtim mengimbau warga terus meningkatkan kewaspadaan.

Kepala Dinas Kesehatan Lamtim, Nanang Slaman, menyatakan DBD merupakan salah satu penyakit cukup berbahaya dan cepat menular dan kondisi cuaca pada puncak musim hujan sangat mendukung berkembangnya penyakit tersebut. Sebab, selain mudah menular melalui gigitan nyamuk Aedes aegypty, penyakit DBD juga bisa merenggut jiwa penderitanya jika tidak cepat atau keliru dalam penanganannya.

“Penyakit DBD biasanya marak muncul di musim hujan. Sebab, dengan kondisi lingkungan banyak genangan air sangat mendukung berkembangnya nyamuk Aedes aegypty,” katanya, Senin, 13 Januari 2020.

Di Lamtim sejak 1 hingga 13 Januari 2020 tercatat sudah tujuh warga Lamtim yang dilaporkan positif terserang penyakit DBD. Ketujuh warga tersebut masing-masing lima warga Desa Banjarrejo, Kecamatan Batanghari, dan dua warga Desa Tulusrejo, Kecamatan Pekalongan.

Di samping ketujuh warga positif terserang DBD, sekitar 25 warga lainnya di beberapa kecamatan yang terdeteksi terserang penyakit demam dengue (DD). Meski tak seberbahaya DBD, penyakit DD yang juga ditularkan nyamuk Aedes aegypty memiliki gejala yang mirip dengan penyakit DBD.

Pihaknya kembali mengimbau warga agar terus meningkatkan kewaspadaan pada puncak musim hujan saat ini. Terlebih pola serangan penyakit DBD saat ini juga mulai berubah karena pada musim kemarau saja serangan penyakit DBD tetap muncul, apalagi pada puncak musim hujan seperti saat ini.

“Karena itulah untuk kesekian kalinya kami mengimbau warga Lamtim agar terus meningkatkan kewaspadaannya,” katanya.

Peningkatkan kewaspadaan tersebut, misalnya rajin menjaga kebersihan lingkungan, tidak membiarkan air tergenang berhari-hari, rajin mengamati dan memantau kondisi lingkungan sekitarnya. Di samping itu langkah lainnya adalah warga giat melaksanakan kegiatan 3M plus, yaitu menguras, menutup, dan mengubur benda-benda yang memungkinkan bisa menjadi tempat sarang nyamuk.

Kemudian tambahan lagi atau plus dari 3M itu adalah masing-masing warga berupaya memproteksi diri agar terhindar dari gigitan nyamuk, misalnya tidur dalam kelambu, menggunakan obat nyamuk atau krim pencegah gigitan nyamuk. Proteksi diri tersebut harus dilakukan mengingat nyamuk Aedes aegypty biasanya aktif mulai pukul 8 hingga 12.00, kemudian dari pukul 15.00 hingga 17.00.

Sementara untuk membantu warga tambah dia, pihaknya tetap rutin turun ke lapangan melakukan pemantauan dan tindakan, seperti penyelidikan epidemologi serta melakukan penyemprotan di sekitar tempat tinggal (fogging focus) jika ada warga yang terserang DBD. 

“Langkah langkah itu harus dilakukan  agar serangan penyakit DBD pada puncak musim hujan dengan kondisi cuaca yang lembap eperti saat ini bisa diantisipasi sedini mungkin,” katanya.

Muharram Candra Lugina







Berita Terkait



Komentar