#PERTANIAN#BERITAMETRO

Dinas Ketahanan Pangan Imbau Gapoktan Margodadi Gelar Gerakan Usir Tikus

( kata)
Dinas Ketahanan Pangan Imbau Gapoktan Margodadi Gelar Gerakan Usir Tikus
Anggota Gapoktan Usaha Maju Margodadi mendongkel pematang sawah untuk menemukan sarang lubang tikus yang dibantu oleh anjing peliharaannya. Lampost.co/Bambang Pamungkas


Metro (Lampost.co) -- Dinas Ketahanan Pangan Pertanian dan Perikanan (DKP3) Kota Metro mengimbau Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) di Bumi Sai Wawai untuk mengadakan gropyokan. Hama tikus kini menjadi momok bagi para petani padi di musim gadu dan berpotensi menjadikan gagal panen. 

Kepala DKP3 Kota Metro, Hery Wiratno, mengatakan, untuk meminimalisasi kerugian akibat hama tikus, ia menggerakkan Gapoktan Usaha Maju untuk melakukan gerakan pengendalian (gerdal) dengan cara gropyokan. 

"Hama tikus saat ini sedang mewabah di Kota Metro, khususnya di Kecamatan Metro Utara dan Metro Timur. Sementara untuk di Metro Selatan ini kan baru akan dimulai masa tanam. Jadi, harus adanya pengendalian untuk mengusir dan meminimalisasi adanya hama tikus," ujarnya saat akan memulai gerakan pengendalian gropyokan di persawahan Kelurahan Margodadi, Kecamatan Metro Selatan, Kamis, 10 Juni 2021. 

Menurutnya, dengan pengendalian hama sebelum masa tanam nantinya akan menentukan keberhasilan panen di masa mendatang khususnya pada hasil yang diraih. 

Pada kesempatan yang sama, Kepala Pengendali Urganisne Pengganggu Tumbuhan (PUPT) Kota Metro, Selamet, mengatakan, dalam pengendalian hama harus bisa menyesuaikan kondisi di lapangan. Terutama hama tikus yang saat ini sedang terjadi di beberapa persawahan di Kota Metro. 

"Kami lihat dulu kondisi lapangan. Seperti di Margodadi ini sudah tepat melakuan gropyokan, karena lahan sawah belum ditanami padi," kata dia. 

Menurut Selamet, ada beberapa metode pengendalian hama tikus. Selain gropyokan, dengan memasang jebakan serta umpan beracun juga dapat meminimalisir perkembangan hama tikus. 

"Jadi, jika sawah sudah ditanami padi yang dilakukan lain lagi. Kita bisa menggunakan perangkap dan racun. Kalau gropyokan sudah pasti mendongkel pematang sawah dan mengakibatkan kerusakan, serta tak jarang petani juga berlarian mengejar tikus yang keluar dari lubang itu," ujarnya. 

Namun, jika sudah masuk masa tanam, metodenya digunakan dengan cara dibakar dan diberikan umpan beracun dan perangkap. Dia menambahkan, untuk mengusir tikus juga bisa menggunakan urine hewan seperti sapi, kambing dan kelinci. 

"Tikus tidak suka dengan bau urine yang sangat menyengat. Dengan menyemprotkan ke seputar lubang dan pohon padi itu membuat tikus kabur," tambahnya. 

 

Wandi Barboy







Berita Terkait



Komentar