Tempekedelai

Dilema Produsen Tempe Hadapi Kenaikan Harga Kedelai

( kata)
Dilema Produsen Tempe Hadapi Kenaikan Harga Kedelai
Suyitno, produsen tempe di Kelurahan Gunung Sulah, Kecamatan Way Halim, Bandar Lampung, terdampak kenaikan harga kedelai, Minggu, 3 Januari 2021. Lampost.co/Deta Citrawan


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Kenaikan harga kedelai sebagai bahan baku pembuatan tempe menjadi dilema bagi produsen. Sebab, kondisi itu akan berdampak pada tingkat penjualan yang di khawatirkan membuat daya beli menurun. 

Untuk itu, produsen tempe pun harus mencari cara agar dagangannya tetap dibeli dan daya beli tidak menurun. Salah satunya dengan mengurangi ukuran agar sesuai dengan kenaikan bahan baku dan harga penjualan. 

Suyitno (57), seorang produsen pembuat tempe di RT 06, LK III, Kelurahan Gunung Sulah, Kecamatan Way Halim, Bandar Lampung, mengatakan untuk mensiasati agar daya beli tetap normal di tengah kenaikan harga kedelai yang tinggi, dia harus mengurangi ukuran. 

"Tiga bulan ini harga kedelai naik. Awalnya naik Rp100, Rp200, tertinggi Rp2.300. Jadi sekarang harganya Rp9.000 per kilogram,l. Kalau normalnya Rp6.800--Rp7.000 per Kg," ujarnya, Minggu 3 Januari 2021. 

Dia menilai, kenaikan harga kedelai saat ini sangat mempengaruhi jumlah produksinya, terlebih dalam masa pandemi saat ini. Dia mengaku secara normal bisa memproduksi hingga 80 Kg. "Semua produsen pakai kedelai impor, karena belum ada kedelai lokal," kata dia.

Kondisi tersebut juga pernah dialami pada 1998 lalu. "Jaman presiden SBY juga pernah, tetapi diberikan subsidi. Harapannya saat ini juga ada subsidi untuk pembelian kedelai," ucap bapak tiga anak ini.

Effran Kurniawan







Berita Terkait



Komentar