#kopilampung#petanikopi#ekbis#beritalampura

Dilema Petani Kopi Lampura Saat Harga Jual Anjlok

( kata)
Dilema Petani Kopi Lampura Saat Harga Jual Anjlok
Pengolahan biji kopi green been di kediaman Ketua Kelompok Tani (Poktan) Mulya Sari, Desa Sidokayo, Kecamatan Abung Tinggi, Subagio. Foto: Dok

Kotabumi (Lampost.co): Kopi merupakan salah satu komoditas ekspor andalan dari Kabupaten Lampung Utara yang menjadi mata pencarian utama bagi sebagian petani kebun setempat.

Perkebunan di Lampura berada di wilayah dataran tinggi di empat kecamatan yang ditetapkan menjadi wilayah sentral penghasil kopi. Yakni di Kecamatan Abung Tinggi, Abung Barat, Tanjungraja, dan Bukit Kemuning.

Namun, di masa pandemi covid-19 turunnya harga jual kopi menjadi keluhan bagi para petani yang berharap panen tahun ini dapat dibeli pedagang dengan harga yang layak.

"Harga biji kopi green been atau kopi beras (biji kopi yang telah di kupas kulitnya dan telah di jemur dengan kadar air sekitar 12 persen) anjlok. Jika di banding panen di 2019 lalu, panen 2020 ini harga jualnya lebih rendah," ujar Ketua Kelompok Tani (Poktan) Mulya Sari, Desa Sidokayo, Kecamatan Abung Tinggi, Subagio, saat dihubungi, Rabu, 17 Juni 2020.

Sebelum masa pandemi, harga jual kopi green been dibeli pedagang di kisaran harga Rp18 ribu--Rp19 ribu per kilo. Di masa pandemi covid-19, harga jual turun di kisaran Rp16 ribu--Rp16.500 per kilo. 

"Kata pedagang, turunnya harga beli karena sulitnya importir untuk mengekspor biji kopi keluar negeri. Sehingga, kopi lebih banyak menjadi komsumsi masyarakat di Indonesia saja," kata dia. 

Menyikapi turunnya harga, dia mengaku para petani kopi akan menyimpan panen kopinya dalam posisi kering dan menjualnya bila harga sudah tinggi.

"Hanya saja, tidak semua hasil panen dapat di tampung di gudang, sebab tuntutan kebutuhan keluarga akan memaksa para pekebun itu untuk menjual hasil panennya," katanya.

Dia mengatakan daya simpan green been kering dapat bertahan sekitar dua tahun. Panen raya biasanya berada pada Juli, Agustus, dan September.

Adi Sunaryo



Berita Terkait



Komentar