#PBNU#NU

Dijadwalkan Tampil di Konferensi Internasional Vatikan, Katib 'Aam PBNU: Dialog Antaragama Harus Jujur

( kata)
Dijadwalkan Tampil di Konferensi Internasional Vatikan, Katib 'Aam PBNU: Dialog Antaragama Harus Jujur
Katib Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya). Foto: Antara/Wahyu Putro


Jakarta (Lampost.co) -- Katib ‘Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Yahya Cholil Staquf, dan Uskup Agung Jakarta, Kardinal Ignatius Suharyo Hardjoatmodjo, dijadwalkan berbicara sebagai narasumber dalam Konferensi Internasional yang diprakarsai Tahta Suci Vatikan, pada pekan depan, 26-27 Januari 2021. 

Konferensi bertajuk “Religious Radicalism: Christian And Muslim Understanding And Responses” (Radikalisme Agama: Pandangan dan Tanggapan Umat Kristen dan Umat Islam), itu akan digelar secara virtual dengan tuan rumah Dewan Kepausan Untuk Dialog Antaragama (Pontifical Council for Interreligious Dialogue).

Keduanya akan tampil di hari pertama konferensi tersebut. Kardinal Ignatius Suharyo Hardjoatmodjo akan berdampingan dengan Prof. Akhtarul Wasey, Wakil Kanselir dari Universitas Maulana Azad di Jodhpur Rajasthan, India, untuk menyampaikan catatan-catatan dari sudut pandang Kristen dan Muslim tentang Radikalisme di Asia. Sedangkan KH Yahya Cholil Staquf diminta untuk memberikan wawasan mengenai “Global Geo-politic Conflicts and Understanding the Phenomena of Home-grown Terrorism and Foreign Fighters” (Konflik Geopolitik Global dan Pemahaman tentang Gerakan Teroris Yang Tumbuh di Dalam Negeri dan Mujahidin Antarnegara). 

Konferensi ini melibatkan tokoh-tokoh dari kalangan pemimpin agama dan intelektual dari Timur Tengah, Afrika, Asia, Eropa dan Amerika. Selain Katib ‘Aam PBNU dan Uskup Agung Jakarta, akan tampil antara lain Sekretaris Jenderal Liga Ulama Muhammadiyah Kerajaan Maroko, Syaikh Ahmad Abbadi; Pimpinan Desk Islam di Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama, Msgr. Khaled Akasheh asal Yordania; intelektual Muslim Amerika berdarah Turki yang adalah Senior Fellow pada program studi Islam and Modernity, Cato Intitute, USA, Mustafa Akyol; pendiri the Observatory of Religious Radicalism and Conflict in Africa, Senegal, Prof. Bakary Sambe; dan 27 orang tokoh Internasional lainnya.

“Aktivisme dialog antaragama telah berlangsung puluhan tahun, tapi tidak membuahkan hasil yang berarti dalam perbaikan hubungan antarumat beragama. Konflik agama masih terjadi di mana-mana di seluruh dunia, malah cenderung semakin marak. Hari-hari ini, Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) menempatkan pasukan penjaga perdamaian di 34 titik konflik di seluruh dunia, 26 di antaranya konflik agama,” kata Katib ‘Aam KH Yahya Cholil Staquf, di Jakarta, Rabu, 20 Januari 2021.

Gus Yahya, sapaan akrabnya menyatakan keprihatinannya. Hal itu, jelasnya, dikarenakan dialog yang ada selama ini cenderung tidak jujur dalam melihat masalah, dan berhenti di forum dialog itu sendiri tanpa tindak lanjut di lingkungan komunitas masing-masing agama. 

Namun begitu, Gus Yahya mengungkapkan optimisme menyambut Konferensi Vatikan kali ini. 

“Melihat topik-topik diskusi dan para narasumber yang dijadwalkan, saya optimis ini akan menjadi dialog yang jujur dan mengakui masalah apa adanya, sehingga dapat diharapkan menghasilkan solusi yang nyata. Prinsip paling mendasar adalah bahwa dialog antaragama harus dilakukan dengan jujur," tandasnya. 

Sobih AW Adnan







Berita Terkait



Komentar