#pembunuhan

Diduga Psikopat, Tuntutan Hukuman Sambo Disebut Tak Boleh Ringan

( kata)
Diduga Psikopat, Tuntutan Hukuman Sambo Disebut Tak Boleh Ringan
Irjen Ferdy Sambo saat rekonstruksi kasus pembunuhan Brigadir J. Foto: Medcom.id/Siti Yona Hukmana.


Jakarta (Lampost.co) -- Tuntutan terhadap Ferdy Sambo diharapkan tidak ringan. Dugaan adanya masalah kejiwaan, yakni psikopat seperti yang disampaikan Komnas HAM bahkan bisa memperberat hukuman mantan Kadiv Propam Polri tersebut.

Pakar Psikologi Forensik, Reza Indragiri Amriel, menilai masalah kejiwaan pada diri FS bukan terkait Pasal 44 KUHP, yakni tidak bisa diminta pertanggungjawaban secara hukum.

"Apalagi, kalau masalah kejiwaan yang dimaksud adalah psikopati (gangguan kepribadian antisosial) seperti kata Komnas HAM maka tepatlah FS disebut sebagai kriminal dengan klasifikasi sangat berbahaya. Dia sebagai psikopat, memiliki kepribadian machiavellinisme yang diistilahkan sebagai Dark Triad: manipulatif, pengeksploitasi, dan penuh tipu muslihat," kata Reza kepada wartawan, Jakarta, Kamis, 15 September 2022.

Baca juga: Kapolri Mengesahkan Komisi Banding Ferdy Sambo

Reza menegaskan pelaku kejahatan semacam itu justru sangat berbahaya. Menurut dia, pelaku dengan sifat psikopat seperti itu sepatutnya dimasukkan ke penjara dengan level keamanan super maksimum. 

"Petugas penjaga jangan staf biasa. Harus staf yang juga cerdas, berintegritas, dan punya jam terbang tinggi 'melayani' napi ber-Dark Triad," kata dia.

Di sisi lain, kata dia, pernyataan Komnas HAM memang bisa kontraproduktif. Riset mutakhir menunjukkan psikopati bukan berakar sebatas pada dimensi perilaku atau pun kepribadian, tapi pada adanya bagian otak yang memang berbeda dari orang-orang non psikopat.

Bagian otak itu tanpa direkayasa, tidak bereaksi ketika diperlihatkan gambar atau tayangan kejam. Sehingga, dengan kondisi otak seperti itu mereka tuna perasaan. Bahkan menjadi psikopat bisa dipahami sebagai sesuatu yang terkodratkan.

"Inilah kontraproduktif, di mana kondisi psikopati itu malah bisa dipakai sebagai salah satu bahan pembelaan diri," ujarnya.

Terkait dengan gangguan kepribadian antisosial di kalangan personel polisi, Reza menjelaskan khusus pada populasi tersebut psikopati terbentuk dari subkultur menyimpang di dalam organisasi kepolisian itu sendiri. Selain itu, mudahnya personel melakukan penyimpangan (misconduct) tanpa dikenai sanksi.

"Alhasil, salahkan bunda mengandung jika ada personel dengan kepribadian yang antisosial. Nah, ini juga bisa menjadi bahan untuk pembelaan diri," kata Reza.

Reza menyebut hal ini bisa jadi dalih jika FS (mengacu pernyataan Komnas HAM) sebagai orang yang berkepribadian psikopat hanyalah individu dengan kejiwaan terganggu yang terciptakan dari kantornya sendiri. Termasuk, kata dia, alasan ini sebagai ulah lingkungan kantor yang terlanjur memberikan dia kekuasaan seluas-luasnya.

Polri menetapkan lima tersangka dalam kasus pembunuhan Brigadir J. Kelimanya ialah Irjen Ferdy Sambo; istri Sambo, Putri Candrawathi; Bharada Richard Eliezer Pudihang Lumiu (RE) atau E; Bripka Ricky Rizal (RR), dan Kuat Maruf (KM) yang merupakan asisten rumah tangga (ART) sekaligus sopir Putri. 

Mereka dijerat Pasal 340 KUHP tentang Pembunuhan Berencana, Pasal 338 KUHP tentang Pembunuhan, juncto Pasal 55 dan 56 KUHP. Dengan ancaman hukuman pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu paling lama 20 tahun.

Korps Bhayangkara juga menjerat tujuh perwira sebagai tersangka obstruction of justice kasus Brigadir J. Para tersangka itu antara lain, Irjen Ferdy Sambo dan Brigjen Hendra Kurniawan.

Kemudian, Kombes Agus Nurpatria, AKBP Arif Rahman Arifin, Kompol Baiquni Wibowo, Kompol Chuck Putranto, dan AKP Irfan Widyanto. Sebanyak lima perwira Polri dipecat secara tidak hormat.

Effran Kurniawan








Berita Terkait



Komentar