#dewanpers#beritalampung#mediamassa#politik

Dewan Pers Ajak Media Kawal Janji Politik

( kata)
Dewan Pers Ajak Media Kawal Janji Politik
Tokoh pers nasional Bambang Harymurthi hadir sebagai pembicara workshop Dewan Pers di Bandar Lampung, Kamis, 22 Agustus 2019. Foto: Lampost.co/Abdul Gafur

BANDAR LAMPUNG (Lampost.co) -- Dewan Pers mengajak segenap insan pers di Tanah Air untuk tetap kritis. Setelah pesta demokrasi 17 April 2019 berlalu, daya kritis media itu justru semakin dibutuhkan masyarakat.

Demikian benang merah dari workshop Peliputan Pasca Pemilihan Legislatif dan Presiden 2019 yang diselenggarakan Dewan Pers bagi wartawan media cetak, elektronik juga siber, Kamis, 22 Agustus 2019.

Wokshop yang berlangsung di Hotel Emersia Bandar Lampung itu diikuti 56 undangan/peserta perwakilan berbagai media dan lembaga profesi jurnalis di Lampung. Workhsop terbagi dalam tiga pokok bahasan berbeda.

Pada sesi pertama, Agung Dharmajaya selaku Anggota Dewan Pers/Ketua Komisi Hukum Dewan Pers memaparkan tema diskusi ”Pers dan Pesta Demokrasi: Melihat kembali posisi pers selama pelaksanaan Pemilu 2019.”

Pada sesi kedua, Bayu Sujatmiko, selaku akademisi Universitas Lampung (Unila) memaparkan tema diskusi bertajuk ”Dinamika dan Harapan pada Pers di Daerah untuk mengawal hasil Pemilu 2019.”

Untuk sesi terakhir, Bambang Harymurthi selaku tokoh pers nasional memaparkan tema diskusi dengan topik ”Posisi Pers dalam Peta Demokrasi. Masa depan pers dan peningkatan kualitas demokrasi di Indonesia”

Pada sesi pertama Agung Dharmajaya mengatakan peran pers dalam setiap pesta demokrasi tidak selesai hingga proses pelantikan selesai. Ada peran penting pers yang menurutnya harus tetap ditunaikan pers pascapemilu.

'Dewan Pers mengajak kawan kawan media untuk berani bersikap kritis usai pemilihan presiden dan pemilihan legislatif 2019 berlalu. Daya kritis itu diperlukan terutama untuk mengawal janji janji politik," ujarnya.

Sementara akademisi Unila Bayu Sujatmiko menyoroti peran pers di era teknologi yang semakin berkembang pesat. Menurutnya dengan perkembaangan infrastruktur terutama akses internet, maka peran media tersebut makin strategis.

"Berdasarkan data terakhir, wilayah yang terjangkau internet secara nasional mencapai angka 78 persen. Untuk Lampung angkanya mencapai 64 persen. Artinya masyarakat kita sudah melek informasi melalui internet," ujarnya.

Hanya persoalannya menurutnya, keterbukaan akses informasi itu tetap butuh peramedia. Sebab, fenomena yang terjadi terutama ketika pemilu atau pilkada adalah maraknya  berita berita hoaks terutama melalui media sosial.

Pada sesi terakhir, Bambang Harymurthi mengajak insan media untuk memiliki keberanian bersikap kritis kepada siapa pun termasuk penguasa demi kepentingan publik. Pers tidak boleh tersandera penguasa atau pemilik modal.

Pers yang kritis menurutnya akan meingkatkan evektifitas kinerja pemerintahan. Pers yang tetap kritis juga mampu bersikap independen akan meningkatkan kualitas demokrasi di Indonesia. "Semua itu butuh keberanian," ujarnya.

Abdul Gafur

Berita Terkait

Komentar