#nuansa#desa-wisata#dana-desa

Desa Wisata

( kata)
Desa Wisata
dok Lampost.co

D Widodo

Wartawan Lampung Post

TAHUN 2020 ini, Kementerian Keuangan mengucurkan anggaran Rp72 triliun untuk dana desa. Uang sebesar itu akan disebar ke 75.436 desa yang tersebar di Indonesia, termasuk 2.435 desa di Lampung.

Berbeda dari sebelumnya, mulai tahun ini pencairan dana desa tidak mengendap dulu di kas pemerintah kabupaten/kota, tetapi langsung masuk ke rekening desa. Dari aspek pemanfaatan, jika sebelumnya ditekankan pada pembangunan infrastruktur, tahun ini diharapkan mulai bergeser ke optimalisasi potensi desa. Pemanfaatan potensi desa dapat melalui pengembangan pariwisata berbasis masyarakat (community based tourism) salah satunya dengan pengembangan desa wisata.

Pentingnya pergeseran fokus penggunaan dana desa untuk program wisata disampaikan Presiden Joko Widodo serta Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Eko Putro Sandjojo.

Desa wisata dinilai paling efektif dan paling cepat mengurangi jumlah pengangguran karena menyerap tenaga kerja cukup besar di perdesaan. Minimal setiap desa wisata dapat menyerap 50 tenaga kerja lokal. Tingginya serapan tenaga kerja di sektor wisata diharapkan mampu mengantisipasi pengurangan tenaga kerja di sektor pertanian akibat modernisasi.

Di Lampung, program desa wisata juga sangat relevan untuk dikembangkan. Banyak desa di Bumi Ruwa Jurai ini memiliki keistimewaan dibanding dengan daerah lain, mulai dari keunggulan topografi, keindahan alam, serta ciri khas kuliner dan budaya lokal. Semua keunggulan tersebut jika dikemas dengan cara yang baik dan kekinian dapat menjadi sumber pendapatan desa.

Di sejumlah desa, memang sudah terbentuk kelompok sadar wisata. Semisal desa di Kecamatan Bakauheni, Lampung Selatan, dan di Kecamatan Pubian, Lampung Tengah. Pengembangan desa wisata tetap harus dipimpin kepala desa setelah melalui musyawarah desa. Itu sebabnya, kepala desa memegang posisi sentral yang menentukan sukses atau tidaknya program pengembangan desa wisata.

Jika menengok ke belakang, sejumlah destinasi wisata bahari dari ujung timur di Lampung Selatan, Pesawaran, Tanggamus, hingga Pesisir Barat, semula hanya pantai biasa. Tidak ada hal menarik selain hanya melihat pantai yang berdekatan dengan kebun kelapa rakyat. Tetapi dengan sentuhan pembangunan beberapa fasilitas kini menjadi tujuan wisata dari Jabodetabek dan Sumbagsel.

Pentingnya pengembangan desa wisata mengingatkan kembali pada teori tahapan pembangunan. Tahap pertama pembangunan pertanian, tahap kedua pembangunan industri, khususnya substitusi impor, dan tahap ketiga sektor jasa. Termasuk dalam sektor jasa adalah perbankan dan pariwisata. Sementara dari sudut perilaku masyarakat, jika kebutuhan sandang, pangan, dan papan telah terpenuhi, beberapa kebutuhan lain akan menuntut untuk diwujudkan, termasuk kebutuhan rekreasi.

Program desa wisata hendaknya mulai dirancang dan direalisasikan sejak sekarang untuk meletakkan fondasi pengembangan pada masa mendatang. Tidak perlulah terlalu tinggi memasang target wisatawan asing. Cukup dengan menjaring wisatawan lokal sudah bisa mengisi kas desa secara rutin.

Bambang Pamungkas



Berita Terkait



Komentar