#COVID-19#JAKARTA

Dekan FK UI Sebut Vaksinasi Bisa Dilakukan Meski Bulan Puasa

( kata)
Dekan FK UI Sebut Vaksinasi Bisa Dilakukan Meski Bulan Puasa
Ilustrasi:Medcom.id


Jakarta (Lampost.co) -- Sejumlah orang merasa ragu melakukan vaksinasi covid-19 pada saat bulan puasa, karena adanya Kejadian Ikutan pascaImunisasi (KIPI). Mengenai hal tersebut, Prof Ari Fahrial Syam, Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK UI),  mengatakan vaksinasi pada saat berpuasa tidak membuat tubuh rentan terkena KIPI.

“Vaksinasi bisa dilakukan pada malam hari atau pada pagi hari. Vaksinator ditempatkan di tempat-tempat ibadah di mana warga masyarakat mendatangi masjid untuk berbuka puasa dan menjalani ibadah salat Tarawih," kata Prof Ari, melalui keterangan tertulis, Rabu, 14 April 2021.

"Seperti yang dilakukan Palang Merah Indonesia untuk mendapatkan darah dari si pendonor,” sambung Ari.

Sedangkan soal membatalkan, Prof. Ari menjelaskan bahwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) sudah mengeluarkan fatwa yang menegaskan bahwa, vaksinasi di siang hari tidak membatalkan puasa. 

"MUI mengeluarkan fatwa Nomor 21 Tahun 2021 yang menjelaskan vaksinasi injeksi tidak membatalkan puasa. Ini merupakan upaya mewujudkan herd immunity melalui vaksinasi covid-19,” tambahnya.

Pada dasarnya, setelah melakukan vaksin memang sangat normal jika mengalami efek samping. Efek samping yang paling umum dari vaksin covid-19.

"Di antaranya adalah rasa sakit di tempat suntikan, demam, menggigil, mual, sakit kepala, kelelahan, dan nyeri atau pembengkakan kelenjar getah bening di lengan tempat vaksin disuntikkan,” kata Dr Vivek Cherian, MD, seorang dokter penyakit dalam yang berbasis di Baltimore.

Dalam kasus vaksin covid-19, efek samping dapat diartikan sebagai pertanda baik. Efek samping dari vaksin disebabkan tubuh sedang meningkatkan respons kekebalan.

"Dan respons kekebalan setiap orang berbeda berdasarkan kesehatan mereka secara keseluruhan," kata Dr Michael Richardson, MD, seorang dokter pengobatan keluarga di One Medical.

"Meskipun demikian, bukan berarti kamu memiliki sistem kekebalan yang lebih lemah atau tubuh tidak merespons vaksin dengan baik jika kamu tidak mendapatkan efek samping. Ini bisa diartikan bahwa tubuh orang yang berbeda dapat merespons rangsangan yang sama secara berbeda," ujar Dr Richardson.

Wandi Barboy







Berita Terkait



Komentar