#debat#nuansa

Debat

( kata)
Debat
Ilustrasi. Foto: Dok/Google Images

DEBAT keren antara jurnalis senior sekaligus pendiri Watcdoc Documentary, Dandhy Dwi Laksono, dan politikus PDI Perjuangan sekaligus konseptor inovator.id, Budiman Sudjatmiko, perihal kompleksitas masalah Papua akhirnya digelar jua.

Keduanya tentu adalah sosok yang sangat berkompeten dalam membincangkan kompleksitas masalah Papua sesuai dengan rekam jejak yang dimiliki sebagai social justice warrior (SJW) atau dalam bahasa sederhana aktivis yang mendambakan keadilan dalam bermasyarakat.

Budiman pernah berjibaku di Partai Rakyat Demokratik (PRD) dan Dandhy sejak dahulu malang-melintang di dunia jurnalistik khususnya televisi. Izinkan saya mengutip sedikit perdebatan ini khususnya pada bagian pengantar atau pembukaan dari debat yang sangat menjunjung tinggi kebebasan berpikir dan sekali dua kali disusupi argumen akademis.

Debat ini dibuka dengan lagu Papua yang terdengar membahana di Studio Visinema milik sutradara Angga Sasongko. Tak lama, ada cuplikan peristiwa yang menyebabkan rakyat Papua bergolak. Selepas cuplikan, jeda untuk mendengar keterangan dari pihak penyelenggara (semacam promotor) apa pentingnya mendengar dan menyaksikan perdebatan Dandhy dan Budiman ini. Pihak penyelenggara menyatakan debat Dandhy dan Budiman ini bukan debat kemarin sore, melainkan debat panjang.

Budi Hermanto yang didapuk menjadi moderator mengungkapkan saling interaksi keduanya yang menyita perhatian warganet di lini masa dimulai sejak November 2010. Namun, Maret 2017 awal perbedaan pandangan dimulai. Keduanya diberikan waktu 10 menit untuk menyatakan pendapatnya. Sebelum memulai debat, moderator bertanya, setujukah referendum untuk Papua? Budiman menjawab tidak. Dandhy menjawab setuju. Begitulah pertanyaan pengantar debat mula-mula ditabuh.

Sebagai awalan, karena Budiman yang menantang, ia dipersilakan mengemukakan pendapatnya. Saat membuka debat, sembari berdiri dan memegang mikrofon, Budiman menyatakan dalam berdebat itu ada dua yang perlu diperhatikan. Ada dalil dan juga dalih.

Dalil Budiman menyatakan Papua belum menjadi satu bangsa yang terpisah dan konsep tentang bangsa selalu berevolusi. Hari ini Papua secara administratif masih bagian dari NKRI. Dalam prosesnya ada pelanggaran HAM, eksploitasi sumber daya alam, dan lainnya.

Semua dalil itu, kata Budiman, berpijak pada dalih atau argumen historis dari konsep bangsa dari Renan atau Bauer soal kesamaan nasib dan pemikiran orang yang terjajah. Dalil Budiman menyebutkan tidak ada balkanisasi. Menurutnya, jika demikian yang terjadi, konflik horizontal akan jauh lebih dalam dan terluka.

Untuk menolak semua dalil dan dalih yang diajukan Budiman, Dandhy mengambil analogi dari film Transformers. Setiap menonton Transformers, menurut Dandhy, mudah baginya untuk memahami dan berbicara seperti Papua.

Dandhy juga mengajak bertamasya sejarah mengingat periode sidang BPUPKI 1945 saat Hatta telah mengingatkan para pendiri republik yang lainnya agar saat Papua masuk dalam wilayah Indonesia, pemerintah RI jangan malah menjadi imperialis baru. Lantas, Anda berpihak siapa?

 

Wandi Barboy



Berita Terkait



Komentar