#pengerukanbukit#lingkungan#beritalampung

Dampak Serius Pengerukan Bukit Bagi Warga Karangmaritim Hanya Dikompensasi 1 Tahun

( kata)
Dampak Serius Pengerukan Bukit Bagi Warga Karangmaritim Hanya Dikompensasi 1 Tahun
Warga tengah melintas di lokasi pengerukan tanah perbukitan untuk dijadikan tanah kaplingan di kelurahan Karangmaritim, kecamatan Panjang, Bandarlampung, Selasa (13/10/2020). LAMPUNG POST/SUKISNO


Bandar Lampung (Lampost.co): Entah bagaimana nantinya nasib warga yang berada di Kampung Mulyajaya, Kelurahan Karangmaritim, Kecamatan Panjang, Kota Bandar Lampung. Tempat tinggal mereka hanya mendapatkan jaminan pengganti kerugian akibat aktivitas pengerukan bukit yang berada diatas pemukiman warga selama satu tahun ini.

Lahan yang dikeruk tidak begitu jauh hanya berjarak beberapa meter saja dari wilayah pemukiman warga. Terdapat kegiatan pengerukan lahan perbukitan yang saat ini tengah dilakukan oleh salah seorang pengembang.

Belakangan ini diketahui pengerukan lahan perbukitan itu dimaksudkan untuk tanah kavlingan yang nantinya akan dijual kembali oleh orang yang mengklaim sebagai pemilik lahan. 

Belum sempat terselesaikan, aktivitas itu telah menunjukkan dampak terhadap warga setempat. Pada Senin 5 Oktober 2020, kurang lebih pada pukul 4 dini hari banjir air disertai lumpur menggenang di dua RT setempat yaitu RT 03 dan RT 04. 

Tidak sempat dengan derasnya banjir yang datang, akhirnya warga hanya bisa pasrah ketika rumahnya harus dipenuhi dengan lumpur yang mencapai lutut kaki orang dewasa. 

Demikian yang dialami oleh Mursiem (70), tinggal hanya seorang diri dirumah membuat dirinya sempat was-was ketika seluruh bagian rumahnya tergenang dengan lumpur. Tidak dapat berbuat banyak, ia hanya mengharapkan bantuan dari tetangga ketika peristiwa itu terjadi. Beruntung tidak terdapat korban jiwa dalam peristiwa itu, hanya barang elektronik rusak serta lumpur yang telah memenuhi seluruh bagian rumah saja. 

"Ini sudah dua kali, tapi yang pertama tidak terlalu parah, tidak sampai angkat-angkat kasur, ya cuma saya sendiri dirumah, Kalau dahulu itu begini juga, tapi tidak parah," kata Mursiem sembari terbata bercerita saat banjir lumpur itu terjadi.

Selama tinggal disana, ia menceritakan bahwa dahulu di bukit itu terdapat banyak pepohonan rindang. Meskipun tinggal tidak jauh dari pemukiman warga, namun tidak sampai menimbulkan banjir. 

"Banyak pohon dulunya disitu (sembari menunjuk ke arah bukit). Keliling pinggiran rumah warga masih banyak pohon, sekarang sudah tidak ada," ungkapnya. 

Aktifitas pengembang dengan meratakan lahan perbukitan itu ditakutkan nantinya akan berdampak buruk terhadap warga sekitar. Namun demikian si pengembang memberikan jaminan kepada warga, mengganti segala kerusakan akibat aktifitas itu namun hanya satu tahun saja. 

"Katanya yang punya tanah itu mau ganti rugi tapi cuma satu tahun ini aja. Begitu kata dia waktu rundingan sama warga lain sebelumnya, saya tidak ikut cuma bisa diem saja tidak mau ngomong-ngomong," keluh Mursiem.

Adi Sunaryo







Berita Terkait



Komentar