#humaniora#gadget#pendidikan

Dampak Buruk Anak Bermain Gadget Jadi Perhatian Relawan Literasi

( kata)
Dampak Buruk Anak Bermain <i>Gadget</i> Jadi Perhatian Relawan Literasi
Andi Winda memberikan pelatihan literasi kepada guru paud dan SD di Pekon Podosari Pringsewu, Rabu (5/8/2020). Lampost.co/Widodo

Pringsewu (Lampost.co): Semakin maraknya anak bermain gadget semakin hari semakin mengkhawatirkan orang tua dan guru. Untuk mencegah dampak negatif dari permainan gadget terhadap anak usia dini, Unila menggelar pelatihan akselerasi literasi informasi bagi guru relawan untuk SDM unggul di Pekon Podosari, Kabupaten Pringsewu, Rabu, 5 Agustus 2020.

Pelatihan itu menghadirkan empat narasumber Andi Winda, Purwanto Putra, Renti Oktaria, dan Anisa Yulistia. Menurut Andi Winda, pelatihan yang di gelar selama dua hari mulai 5-6 Agustus 2020, merupakan pelaksanaan tri darma perguruan tinggi yang merupakan bagian dari program pengabdian kepada masyarakat.

Dia menjelaskan pelatihan dilakukan bukan hanya tahun ini dengan lokasi yang berbeda. Pelatihan bertujuan untuk meningkatkan kompentensi literasi guru di Pringsewu.

"Pelatihan ini untuk meningkatkan pembelajaran orang tua dan murid termasuk dari segi gurunya," kata dia.

Dia menambahkan peserta yang merupakan guru pendidikan anak usia dini (PAUD) dan SD berjumlah 50 orang sedangkan yang ikut dalam pelatihan secara online sebanyak 100 orang.

Menurutnya anak-anak adalah masa depan bangsa. Oleh karena itu harus dijaga perkembangan psikologinya agar anak berkembang secara normal dan alami. 

"Kalau sejak dini anak sudah terpangaruh informasi diluar kebutuhannya, tentu akan membahayakan anak itu sendiri. Bahkan tindak kekerasan anak di kota besar terinspirasi oleh tontonan di gadgetnya yang tiap hari dilihat tanpa bimbingan orang tua. Pelaku umumnya menirukan apa yang di ihatkan di ponsel seperti film-film horor," kata dia.

Dia mengakui untuk saat ini khusus di Lampung memang belum ditemukan kasus besar seperti di Jakarta. Namun, dari pengamatan di lapangan jika anak-anak terus di terpa dengan konten-konten buruk akan mempengaruhi psikologis anak termasuk perilaku buruk.

Menurutnya pendampingan orang tua jika anak memegang gadget sangat penting untuk. Tujuannya untuk membimbing dan mengamati agar anak tidak kebablasan dalam menonton konten-konten yang tidak sesuai dengan usianya.

"Untuk para orang tua yang kesehariannya sibuk bekerja hendaknya membangun kerja sama dengan nenek, atau keluarga lainnya untuk terus mendampingi anak. Jadi waktu anak bermain gadget hendaknya dibatasi. Contohnya bisa dua jam sehari," ujarnya.

Dia mengatakan dampak bahaya yang bisa muncul pada kasus fisiologis, yaitu anak telat atau keterlambatan berbicara bahkan bisa sampai umur empat tahun.

"Ini di sebabkan karena anak terlalu fokus dengan tontonan gadget sehingga tidak ada rangsangan untuk berbicara balik," ungkapnya.

Adi Sunaryo



Berita Terkait



Komentar