#tajuklampungpost#bentrok#register45#mesuji

Damai Abadi di Register 45

( kata)
Damai Abadi di Register 45
Bentrok kembali terjadi di Register 45. (Foto: Dok Istimewa)

KONFLIK agraria menjadi salah satu masalah yang belum terselesaikan di Lampung. Termasuk konflik antarwarga yang menduduki kawasan hutan Register 45, Kabupaten Mesuji, terus muncul. Paling mutakhir terjadi Selasa (24/12) yang mengakibatkan satu orang mengalami luka bacok di bagian wajah.

Informasi yang dihimpun Lampung Post, bentrok terjadi di wilayah Kelompok Karya Tani. Bentrok terjadi akibat ketidaksepahaman antara dua kelompok.

Bentrokan tersebut melibatkan lebih dari 250 orang. Massa mendatangi salah satu ketua kelompok di kediamannya di Register 45. Aksi ini diduga terkait klaim lahan dan penyetopan bajak secara sepihak dari salah satu kelompok.

Bentrok antarwarga karena perebutan lahan ini kembali terjadi di Register 45 Mesuji. Ini sudah kesekian kalinya terjadi.

Sebelumnya, Register 45 Sungai Buaya, Mesuji, kembali memanas. Bentrok antardua kelompok terjadi pada Rabu, 17 Juli 2019 lalu. Bentrokan tersebut menimbulkan empat korban jiwa, puluhan luka-luka, dan banyak warga yang harus mengungsi.

Kemudian pada 2011 terjadi bentrokan yang menyebabkan seorang warga tewas dan peristiwa serupa kembali terjadi pada 2014 dengan satu nyawa melayang. Konflik kembali melanda tahun 2015, 2016, dan 2017 dengan tiga orang meregang nyawa.

Konflik yang terus berulang dan tidak jarang merenggut korban jiwa di kawasan hutan tanaman industri Register 45 ini akan terus terjadi jika pemerintah tidak tegas menyelesaikan akar permasalahannya.

Sumber konflik yang terus berulang ini, yakni perebutan lahan di tanah negara. Dan konflik ini hanya bisa diselesaikan jika pemerintah benar-benar hadir, baik pemerintah kabupaten, provinsi maupun pusat. Pemerintah bersama stakeholder lainnya harus turun tangan meredam konflik lahan di Register 45 Mesuji ini. Jika tidak, sewaktu-waktu konflik bisa pecah lagi dan bisa memakan korban jiwa.

Hal ini karena program kemitraan yang dijalankan nyatanya tidak cukup menggoda masyarakat yang sudah lebih dari empat tahun menghuni Register 45.

Itu terlihat dari persentase lahan yang dikuasai kemitraan yang hanya kurang dari 5% dari total luas Register 45, yakni 43.100 hektare. Dari luas tersebut, yang masih dikuasai penentang izin hak pengusahaan hutan tanaman industri (HPHTI) Register 45, yakni PT Silva Inhutani Lampung hanya sekitar 16.000 hektare.

Kemudian dari data Dinas Kehutanan Provinsi Lampung, hanya ada tujuh kelompok yang ikut kemitraan. Dari tujuh kelompok tersebut, tercatat luas lahan yang dikuasai sekitar 9.050 hektare. Namun kenyataannya, luas lahan yang benar-benar terkuasai hanya 500 hektare.

Jangan juga dilupakan harus ada perhatian dan kepastian terkait warga maupun kelompok yang masuk kemitraan maupun tidak. Dan jangan sampai ada oknum yang mengadu domba untuk memperoleh keuntungan semata sehingga dari titik ini timbullah konflik.

Persoalan kemitraan ini bersama permasalahan yang mengiringinya dan menjadi sumber konflik harus diredam dari akarnya. Kuncinya ada di pemerintah terkait segala hal yang berkaitan dengan kemitraan di Register 45 Mesuji ini.

Apalagi Presiden Joko Widodo memberi target satu tahun menyelesaikan konflik agraria saat pelantikan wakil menteri, akhir Oktober 2019. Ini harus menjadi perhatian bersama, seluruh pemangku kepentingan agar bisa memberi solusi atas semua keributan di tanah negara itu. Jangan sampai berakhirnya konflik tanah hanya sebatas di permukaan, bukan perdamaian yang abadi.

Bambang Pamungkas



Berita Terkait



Komentar