#nuansa#setitikair#teknologi#gadget

Cuek dengan Sekitar

( kata)
Cuek dengan Sekitar
Ilustrasi. Foto: Dok/Google Image


PRIA paruh baya sore itu duduk di teras dengan sang istri. Mereka bercakap-cakap dengan anaknya yang masih remaja. Mengobrol santai di teras itu pun semakin mendalam karena sang bapak memberikan wejangan kepada anaknya yang masih duduk di bangku sekolah untuk giat belajar agar menjadi pintar dan kelak menjadi sukses.

Di tengah perbincangan sang bapak dan anak, tiba-tiba sang ibu memarahi anaknya karena tak mendengarkan wejangan sang bapak yang mengajak mengobrol, karena asyik bermain game online di gadget.

Sudah menjadi pemandangan yang sangat tak asing lagi di era saat ini. Pemandangan acuh tersebut banyak sekali kita jumpai di lingkungan kita.

Buaian dunia gadget dewasa ini tak bisa terbendung lagi dari aktivitas sehari-hari wajib setiap orang yang bisa membutakan mata, mulai dari yang tua, remaja, hingga anak-anak. Namun, pengaruh gadget paling banyak berdampak pada jenjang usia remaja.

Seperti sepenggal lirik lagu Astaga ciptaan James F Sundah yang dirilis tahun 1994 dan dipopulerkan oleh Ruth Sahanaya.

Sementara yang lainnya duduk seenaknya/Seakan waktu takkan pernah ada akhirnya/Hanya mengejar kepentingan diri sendiri/Lalu cuek akan derita sekitarnya.

Oh, oh Astaga/Apa yang sedang terjadi/Astaga/Hendak ke mana semua ini.

Bila kaum muda/Sudah tak mau lagi peduli/Mudah putus asa/Dan kehilangan arah.

Saat ini memang benar terjadi di kehidupan nyata dari lirik lagu tersebut. Para remaja banyak yang cuek dengan sekitarnya. Mereka sudah terlena dengan kecanggihan zaman. Sangat disayangkan bila para remaja yang akan menjadi cikal bakal penerus bangsa saat ini tak memiliki rasa kepedulian lagi terhadap sekitar atau sesamanya.

Hal demikian memang sudah sepantasnya oleh para orang tua mulai membatasi para anak-anaknya untuk bermain gadget. Jangan memberikan buaian kecanggihan teknologi kepada anak apalagi itu diberikan sejak anak-anak yang pada akhirnya malah menyebabkan efek ketergantungan gadget kepada anak.

Seperti kita ketahui, gawai layaknya dua sisi mata uang. Di satu sisi memberikan efek positif dan di sisi lain menebar efek negatif. Jika orang tua tidak mengawasi atau membekali anak dengan pengetahuan yang cukup, sang anak tidak akan mampu menyaring unsur negatif dari seabrek informasi yang berseliweran di dunia maya.

Mengikuti perkembangan teknologi memang penting. Namun, yang lebih penting adalah menanamkan kedisiplinan anak mengatur pola interaksi bersosial dibandingkan dengan dunia gadget. Jika dalam kehidupan bersosial saat berinteraksi dengan orang, tinggalkan sejenak kehidupan gadget.

Adi Sunaryo Wartawan Lampung Post







Berita Terkait



Komentar