#bambang-Eka-Wijaya#buras#cuaca-ekstrem

Cuaca Ekstrem Indonesia Diprediksi hingga 2040!

( kata)
Cuaca Ekstrem Indonesia Diprediksi hingga 2040!
Ilustrasi Pixabay.com

FENOMENA cuaca ekstrem yang melanda Indonesia, berdasar data BMKG dalam 30 tahun terakhir semakin sering terjadi dengan intensitas semakin tinggi.

“Kondisi ekstrem ini kejadiannya semakin sering sejak 30 tahun terakhir dengan jangka tahunnya semakin pendek. Hari ini adalah bagian dari fenomena (cuaca ekstrem) yang panjang tadi,” kata Kepala BMKG Dwikora Karnawati. Proyeksi perubahan iklim, menurut BMKG, masih akan berlangsung hingga periode tahun 2040. (Kompas.com, 28/2)

Cuaca ekstrem berkaitan dari waktu ke waktu, seperti dampak dari El Nino dan Dipole Mode 2019, menjadi curah hujan lebih deras 2020.

El Nino adalah fenomena memanasnya suhu muka laut di Samudera Pasifik bagian tengah hingga timur. Untuk wilayah Indonesia, dampak El Nino adalah kondisi kering dan berkurangnya curah hujan.

Sedangkan Dipole Mode, merupakan fenomena mirip El Nino, tapi kejadiannya di Samudera Hindia. Femomena ini mengakibatkan perairan di sekitar Indonesia jauh lebih dingin dari biasanya dan menyebabkan tidak ada penguapan.

Menurut pakar meteorologi ITB, Zadrach Ledoufij Dupe, Dipole Mode menyebabkan Indonesia tidak memiliki pertumbuhan awan, curah hujan minim, dan udara kering bergerak sampai Australia yang menyebabkan kebakaran parah hutannya.

“Jadi seolah-olah musim penghujan kita kemarin mengalami stres. Angin yang membawa uap air ke Indonesia ditahan oleh El Nino dan Dipole Mode, kemudian saat Al Nino dan Dipole Mode pergi, udara lembap masuk Indonesia dan curah hujan yang sebelumnya tertahan langsung bles aja,” jelas Zadrach.

Sementara Kepala Organisasi Meteorologi Dunia (MMO) Petteri Taalas menyatakan 2019 meninggalkan serangkaian peristiwa kondisi cuaca dan iklim ke tahun 2020. Penyebabnya, karena tingginya tingkar gas rumah kaca yang membuat panas terperangkap di atmosfer. Hal itu menyulut pemanasan global dengan salah satu dampaknya naiknya suhu di lautan dunia, khususnya pada 2019. Menurut studi dalam Advances in Atmopheric Sciences, dari data 1950-2019 suhu rata-rata lautan dunia pada 2019 lebih tinggi 0,075 derajat Celsius.

Meski angkanya tak terlihat signifikan, ternyata dibutuhkan panas sebesar 228 sextilion Joules untuk mencapainya. Jika dikonversi dengan bom atom Hirosima pada 1945, jumlah panas yang kita tambahkan ke lautan selama 25 tahun terakhir setara dengan 3,6 miliar ledakan bom atom Hirosima.

Akhirnya, 2040 itu jadwal sukses target global menurunkan emisi gas rumah kaca.

Bambang Pamungkas



Berita Terkait



Komentar