#ikan#ekonomilampung

Cuaca Buruk bikin Omzet Pedagang Ikan di Bandar Lampung Anjlok

( kata)
Cuaca Buruk bikin Omzet Pedagang Ikan di Bandar Lampung Anjlok
Pedagang di Pasar Ikan Tradisional Gudang Lelang Bandar Lampung menawarkan dagangannya, Jumat, 5 November 2021. Lampost.co/Triyadi Isworo


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Cuaca buruk hujan lebat, angin kencang, dan gelombang tinggi yang terjadi belakangan mempengaruhi hasil tangkapan dan penjualan ikan di Kota Bandar Lampung.

Pedagang di Pasar Ikan Gudang Lelang Bandar Lampung, M. Syahroni mengatakan, cuaca buruk mengakibatkan daya beli dan kecenderungan masyarakat untuk mengkonsumsi ikan rendah.

"Penjualan ikan ikut berpengaruh cuaca buruk. Kita beli ikan dari nelayan mahal, tetapi menjualnya susah. Apalagi sekarang masih pandemi, perekonomian belum stabil," katanya Syahroni, Jumat, 5 November 2021.

Baca: Nelayan Lamsel Berhenti Melaut Akibat Solar Langka

 

Di lapaknya, kata dia, ikan yang banyak dicari warga adalah tongkol, simba, dan cumi-cumi. Saat ini omzet harian turun dari Rp5 juta/hari menjadi Rp700 ribu/hari.

"Ikan tongkol dijual Rp30 ribu per kilo, ikan simba Rp40 ribu/kg, cumi-cumi besar Rp75 sampai 80 ribu/kg, dan cumi-cumi kecil Rp45-60 ribu/kg," katanya.

Pedagang ikan gudang lelang lainnya, Mai mengatakan, anjloknya omzet penjualan tersebut mau tidak mau tetap harus dilakoninya demi menutupi kebutuhan sehari-hari. Meski begitu, ia mengaku bersyukur karena dalam sehari tetap bisa menjual udang bisa hingga sebanyak 10 kg, cumi 20 kg, lobster 5 kg, dan tongkol 25 kg.

"Kalau lagi ramai, penghasilan bisa mencapai Rp25 juta/hari. Tetapi kalau normalnya bisa Rp5 juta/hari. Kalau bulan ini kurang karena sepi apalagi angin dan ombak lagi besar, ikan susah didapat," kata dia. 

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Maritim Lampung menyampaikan peringatan waspada tinggi gelombang dapat mencapai 1.25-2.50 meter di perairan teluk Lampung bagian utara. Kemudian tinggi gelombang dapat mencapai 2.50-4.00 meter di Perairan Barat Lampung, Selat Sunda bagian barat, teluk Lampung bagian selatan, dan Samudera Hindia Barat Lampung.

Sirkulasi siklonik terpantau di Laut Natuna dan Samudra Hindia barat Lampung yang membentuk daerah pertemuan dan perlambatan angin (konvergensi) yang memanjang di sekitar Laut Natuna, dari Kepulauan Riau hingga Selat Karimata, dari perairan selatan Banten hingga perairan barat Lampung.  

Sobih AW Adnan








Berita Terkait



Komentar