#batubara#keretaapi

CSR PTBA Tak Sebanding dengan Kerugian Warga Bandar Lampung

( kata)
CSR PTBA Tak Sebanding dengan Kerugian Warga Bandar Lampung
Pengendara sedang menunggu kereta api Babaranjang lewat di perlintasan kereta api Kedaton Bandar Lampung, Jumat (4/3). Lampost.co/Sukisno


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Muhammad Ramdhan menyebut Corporate Social Responsibility (CSR) yang diterima dari PT Bukit Asam (PTBA) belum sebanding dengan kerugian yang dirasakan masyarakat.

Ia menjelaskan, dalam lalu lintas, kereta api harus diprioritaskan oleh kendaraan lain. Hal tersebut tentu menimbulkan antrean kendaraan, pemborosan bahan bakar, dan waktu yang terbuang.

Baca juga: Dana Kompensasi PTBA Diplot untuk Perbaikan Infrastruktur di Bandar Lampung

Sementara, CSR yang diberikan hanya satu kali dalam setahun berupa barang seperti ekskavator dan mobil pemadam kebakaran.

"Belum lagi polusi udara dan suara yang dirasakan khususnya masyarakat yang tinggal di sekitar pelintasan," ungkapnya saat ditemui Lampost.co di kantor, Selasa, 8 Maret 2022.

Selain itu, ganguan lalu lintas yang ditimbulkan juga mengharuskan pemerintah kota Bandar Lampung mengeluarkan anggaran untuk menyiapkan infrastruktur. Dia mengatakan ada dua flyover di Bandar Lampung yang dibangun untuk mengatasi kemacetan akibat pelintasan kereta pengangkut batu bara.

Pemkot Bandar Lampung mengeluarkan biaya Rp60 miliar untuk membangun flyover di jalan Gajah Mada, Rawa Laut. Sementara flyover di jalan Sultan Agung, Kedaton, menghabiskan anggaran sebesar Rp34 miliar.

Menurutnya, selama ini belum ada dana kompensasi yang diberikan perusahaan plat merah itu.

"Saya rasa kalau sampai ke Pak Erick Thohir beliau mau bantu, karena PTBA milik BUMN," ujarnya.

Ia mengatakan, pihaknya akan mengkoordinasikan hal tersebut kepada pimpinan. Jika ada instruksi dari Wali Kota, BPKAD akan menindaklanjuti hal tersebut.

Winarko






Berita Terkait



Komentar