#Lampost-Weekend#Refleksi#virus-corona

Corona Mengganas!

( kata)
Corona Mengganas!
Uji tes virus corona. (Ilustrasi/Google)

AKHIRNYA Indonesia mengumumkan kematian pertama pasien akibat terinfeksi virus corona. Yang meninggal ini adalah warga negara asing (WNA) yang tinggal di Bali. Jika dua pekan lalu, ada dua orang dinyatakan positif terjangkit corona, kini Rabu lalu (11/3), bertambah 34 orang.

Jika angka penderita terus meningkat, negeri ini harus menaikkan waspada penuh mencegah penularan corona virus disease (covid-19). Jika tidak ditangani secara serius, virus mematikan itu akan merajalela seperti di negara asalnya–Tiongkok. Tiap hari penderitanya bertumbangan.

Hanya ada satu tekad: “habisi corona” jangan seperti deman berdarah yang sudah mewabah dan mematikan ratusan rakyat. Tapi di Tiongkok sendiri, epidemi corona sudah mereda. Ingat, virus corona sudah memacetkan perekonomian. Dunia pendidikan pun juga berdampak.

Sebanyak enam sekolah internasional di Jakarta menghentikan proses belajar-mengajar secara langsung. Guru dan siswa diliburkan. Belajar pun dialihkan secara online menunggu virus corona tidak mewabah lagi.

Sekolah yang meliburkan siswanya berlebel internasional, seperti Jakarta Intercultural School (JIS), ACG School Jakarta, Mentari School, Beacon Academy, Taipei School, dan Sekolah Cikal. Di Jakarta, sekolah menutup aktivitas bahkan pejabatnya diinstruksikan mengurangi berjabat tangan dan kontak fisik yang berpotensi penularan virus corona.

Negeri ini harus belajar bagaimana membendung virus corona dari Negeri Tirai Bambu. Beberapa minggu lalu, rumah sakit di sejumlah kota di Tiongkok dipenuhi pasien corona. Pekan ini ruang dan ranjang yang dihuni pasien sudah kosong. Tiap hari di Provinsi Hubei berjatuhan korban jiwa.

Fakta membuktikan, kata ahli epidemiologi Tim Eckmanns dari Robert Koch Institute. Ternyata Tiongkok melakukan pendekatan yang sangat berani untuk menahan penyebaran cepat patogen pernapasan baru ini. Apa yang dilakukan tim ahli dari negeri Tirai Bambu untuk menahan corona?

Secara besar-besaran, Tiongkok melakukan penguncian serta pengawasan elektronik yang diberlakukan pemerintah. Tindakan yang paling dramatis dan kontroversial adalah penguncian Kota Wuhan dan kota-kota terdekat di Provinsi Hubei. Tiongkok menempatkan 50 juta warganya dikarantina secara wajib. Warganya secara sukarela dikarantina dan diawasi aparat.

Negeri ini harus belajar bagaimana membendung virus corona dari Negeri Tirai Bambu.

Bahkan secara ekstrem, pemerintah Tiongkok membatalkan acara olahraga dan menutup semua bioskop. Memperpanjang masa liburan sekolah serta mewajibkan warganya mengenakan masker jika bepergian keluar rumah–atau berada di ruang publik, termasuk dua aplikasi ponsel yakni AliPay dan WeChat membantu menegakkan pembatasan yang terinfeksi corona.

Keberhasilan Tiongkok ini–memperlambat epidemi. “Itu seperti menekan kebakaran hutan namun tidak mematikan. Suatu saat akan kembali lagi,” kata Kepala Pusat Penelitian dan Kebijakan Penyakit Infeksi di University of Minnesota Mike Osterholm. Yang jelas, langkah Tiongkok bisa dicontoh oleh negara yang terjangkit virus sebagai pelajaran baru.

Sebuah jurnal medis terkenal Journal of American Medical Association (JAMA) menerbitkan makalah keberhasilan Taiwan. Artikel itu memuji Taiwan yang sigap menanggapi, mengambil tindakan pencegahan lebih awal dampak virus corona. Rakyatnya juga diberikan penjelasan secara perinci dan transparan, serta menyampaikan pesan yang jelas dan tegas untuk mencegah virus corona.

***

Bagaimana di Indonesia? Setiap hari pemerintah merilis perkembangan penanganan covid-19. Hanya negeri ini berbeda dengan negara lain seperti Singapura. Indonesia tidak akan membuka data pasien corona beserta hasil penelusuran kontaknya (contact tracing). Alasan tidak diumumkan agar tidak terjadi kepanikan di masyarakat.

Bahkan, pers di negeri ini juga diminta mengedukasi rakyat agar memahami dampak virus covid-19. Ketua Dewan Pers Muh Nuh meminta media massa berpartisipasi membantu pemerintah menghadang penyebaran hoaks atau berita bohong tentang corona yang sudah meresahkan rakyat.

Kata Nuh, dalam pemberitaan covid-19, media di Indonesia juga bisa belajar dari negara lain yang mampu mengedukasi rakyat  melalui pemberitaan yang akurat, mudah dipahami, dan transparan. Apalagi langkah yang harus dilakukan pemerintah agar covid-19 tidak menjalar kemana-mana?

Saatnya penanganan corona di Indonesia secara tegas dengan membentuk satuan komando terpadu. Tugasnya membawahi kementerian dan lembaga terkait agar bergerak cepat melakukan pencegahan. Di Amerika misalnya, Presiden Donald Trump menunjuk Wakil Presiden Mike Pence sebagai koordinator dalam menangani virus corona.

Tugas Pence mengomandoi satuan tugas untuk memonitor, mencegah perluasan, dan memitigasi penyebaran virus. Dia juga memberi informasi terbaru dan akurat bagi rakyat terkait penyebaran covid-19. Walaupun virus corona sudah masuk daratan Amerika, tugas Pence tidak terlambat!

Indonesia tidak akan membuka data pasien corona beserta hasil penelusuran kontaknya (contact tracing). Alasan tidak diumumkan agar tidak terjadi kepanikan di masyarakat

Patutnya negeri ini mengikuti langkah Amerika dan Tiongkok guna mencegah virus covid-19. Berulang pada 2006, Indonesia pernah menangani wabah flu burung ketika presiden dijabat oleh Susilo Bambang Yudhoyono. Saat itu diterbitkan Perpres No. 7 Tahun 2006 tentang Komite Nasional Pengendalian Flu Burung dan Kesiapsiagaan Menghadapi Pandemi Influenza. Penanganannya ampuh karena terstruktur!

Kini pasien corona di Bumi Nusantara kian bertambah, bahkan sudah ada yang meninggal dunia. Saatnya sigap dan bertindak cepat. Penanganannya mesti dikomandoi wakil presiden. Mengapa? Agar tidak terjadi ego sektoral terkait kebijakan di kementerian dan lembaga. Seperti halnya pemulangan warga Indonesia dari Tiongkok yang diisolasi di Pulau Natuna. Protes bertubi-tubi dari masyarakat.

Jangan menunggu anak-anak bangsa berjatuhan menjadi korban akibat virus covid-19 barulah bergerak cepat. Saatnya dari pusat hingga daerah secara bersama-sama membentuk satuan tugas corona dikomandoi oleh wakil presiden, gubernur, wali kota, dan bupati dengan tegas mengantisipasi penyebaran virus pencabut nyawa yang terukur seperti di Tiongkok. ***

 

Bambang Pamungkas



Berita Terkait



Komentar