#nuansa#corona-center#covid-19

Corona Center Lampung

( kata)
Corona Center Lampung
Ilustrasi Pixabay.com

PEKAN lalu, Pemprov Lampung membuka unit Corona Center di Lantai I Gedung Mahan Munyai di kompleks RSUD Abdul Moeloek, Bandar Lampung. Fasilitas yang buka dari pukul 08.00—12.00 itu bertujuan memberi pelayanan kesehatan terkait wabah korona.

Warga yang mengalami keluhan batuk, demam, sesak napas, sakit tenggorokan, atau memiliki riwayat perjalanan dari daerah endemik korona dapat memeriksakan diri ke pusat layanan itu.

Unit tersebut sifatnya melayani warga yang secara sadar memeriksakan diri. Untuk memastikan apakah hanya menderita demam dan batuk biasa atau terindikasi terpapar korona.

Diharapkan, fasilitas tersebut dapat mengantisipasi penyebaran korona sejak dini. Tetapi, memang tidak mudah membangkitkan kesadaran warga untuk memeriksakan diri. Itu karena kepanikan akibat serangan korona datang mendadak.

Pada Januari 2020 lalu, banyak orang masih menganggap korona sebagai bahan canda tawa. Februari, kecemasan itu mulai datang. Maret bukan kecemasan lagi, tetapi yang muncul kepanikan.

Pola hubungan sosial pun berubah. Bersalaman tangan menjadi hal terlarang. Masyarakat menjadi berhati-hati saling berinteraksi untuk memenuhi anjuran menjaga jarak sosial. Orang begitu ketakutan saat mendengar batuk apalagi bersin. Kecemasan itu pun menjadi persoalan tersendiri.

Lebih parah lagi yang dialami orang dalam pemantauan (ODP) dan pasien dalam perawatan (PDP). Para ODP dan PDP berikut keluarga dan yang pernah berinteraksi segera dijauhi dari lingkungan sosial. Dianggap sebagai aib, bukan korban.

Bahkan, ada pamong yang menganjurkan warganya sementara waktu tidak melewati jalan di depan rumah orang tersebut. Padahal, kemudahan memberi stigma negatif itu justru akan menyulitkan upaya pencegahan.

Sejumlah aksi menolak pemakaman jenazah pasien korona juga semakin memperkeruh keadaan. Penolakan itu jelas menyurutkan kesadaran warga untuk memeriksakan diri ke dokter. Jika terjadi hal terburuk atau sebutlah jika sampai meninggal, jenazahnya bakal ditolak dimakamkan tetangga sendiri.

Dampaknya jelas, jika warga tersebut ternyata positif terpapar korona, dia tetap leluasa menebar virus ke lingkungan terdekat. Itu sebabnya, semua harus menyamakan persepsi. Pemahaman yang keliru harus diluruskan. Sebab, faktanya pemahaman tentang virus korona sering tidak berbanding lurus dengan jenjang pendidikan dan strata sosial.

Hal terbaik saat ini, jika ada keluhan batuk, demam, sesak napas, sakit tenggorokan, atau memiliki riwayat perjalanan dari daerah endemik segera memeriksakan diri ke Corona Center Lampung. Jika tidak, sebaiknya tetap mematuhi protokol kesehatan. Sering cuci tangan, pakai masker, jaga jarak, dan jaga asupan gizi.

Bambang Pamungkas



Berita Terkait



Komentar