tnbbsperambahhutan

Cerita Mantan Perambah dan Pemburu di TNBBS yang Bertobat 

( kata)
Cerita Mantan Perambah dan Pemburu di TNBBS yang Bertobat 
Abudin Eks Perambah dan Pemburu TNBBS. Lampost.co/Andi Apriadi


LAMPUNG BARAT (Lampost.co) -- Perambahan terus mengancam kelestarian Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS). Beruntung beberapa oknum perambah menyadari tindakannya dapat merusak pontesi kawasan TNBBS yang luasnya sekitar 355.511 hektar.

Perubahan oknum perambah terjadi setelah dilakukan pendamping dan pengarahan yang dilakukan sejumlah organisasi atau lembaga lingkungan salah satunya Bestari, TNBBS dan dukungan Pemerintah Kabupaten Lampung Barat.

Abudin (52) mantan perambah di kawasan TNBBS mengaku lebih dari 10 tahun membuka lahan hutan di kawasan TNBBS untuk dijadikan perkebunan kopi, umbi-umbian dan tanaman lainnya. Tak hanya merambah, ia pun memburu satwa menggunakan senapan angin dan menebang pohon.

"Kalau dulu terus terang saya perambah hutan gede-gedean. Bahkan saya dulu nyenso pohon dan memburu burung di kawasan TNBBS. Tapi saya nggak pernah berburu harimau, gajah dan badak," ujarnya, Selasa 22 Desember 2020.

Abudin mengungkapkan, membuka lahan di dalam kawasan TNBBS terpaksa dilakukannya lantaran tidak memiliki pekerjaan lain yang berada di tempat tinggalnya di Dusun Sukaraja, Desa Sukamarga, Kecamatan Souh, Lampung Barat. 

"Waktu itu saya mengejar kebutuhan ekonomi sehari-hari. Jadi dengan terpaksa saya dan beberapa warga lainnya merambah hutan," tuturnya.

Kini Abudin dan beberapa warga lainnya yang dahulunya merambah mulai menyadari perbuatannya tersebut dilarang dan dapat merusak ekosistem di dalam kawasan TNBBS.

"Sekarang alhamdulillah saya sudah tobat, nggak mau lagi jadi perambah dan pemburu. Apalagi saya sehari-hari sering bersama petugas TNBBS dan Kepala Resort Suoh. Saya tahu yang saya lakukan itu melanggar aturan, saya juga selalu diingatkan kepala desa dan lainnya," kata dia. 

Abudin menuturkan, perubahan itu ia dapat setelah mendapat nasehat dari pihak TNBBS, Kepala Desa Sukamarga serta pendampingan dan penyuluhan dari Bestari. Saat ini dirinya memiliki penghasilan sebagai pemandu wisata Danau Kramikan Souh.

"Tapi sekarang alhamdulillah saya sedikit demi sedikit sudah ada penghasilan sebagai pemandu wisata Danau Kramikan. Walupun penghasilannya hanya Rp10 ribu--Rp20 ribu," paparnya. 

Selain itu, lanjut Abudin, untuk menambah penghasilan kini dirinya tengah membudidayakan lanceng atau lebah yang menghasilkan madu. Namun, untuk saat ini hasilnya belum bisa diproduksi.

"Alhamdulillah setelah dapat penyuluhan dari Bestari. Sekarang saya dan beberapa warga lainnya sedang membudidayakan lanceng," ujarnya. 

Dia pun mengajak warga yang masih merambah dan memburu di kawasan konservasi hutan untuk berhenti. Sebab, membuka lahan di TNBBS melanggar aturan yang ditetapkan pemerintah. 

"Sekarang saya sudah tahu aturannya kalau merambah di dalam TNBBS itu sangat salah. Kalau dulukan saya belum tahu aturannya. Maka itu, saya mengajak masyarakat di sini untuk berhenti merambah dan memburu di TNBBS," ucapnya.

Effran Kurniawan







Berita Terkait



Komentar