#nuansa#LampungPost#PramoedyaAnantaToer

Catatan dari Pram

( kata)
Catatan dari Pram
Pramoedya Ananta Toer. literasipribumi.files.wordpress.com


RATUSAN lembar catatan berharga berupa surat-menyurat dari penjara yang ditulis sastrawan termasyhur, Pramoedya Ananta Toer, kepada sanak keluarganya masih dapat diselamatkan. Ya, itulah catatan yang di kemudian hari dikumpulkan lembar demi lembar dan lama kelamaan menjadi anak ruhani (buku) hingga dua jilid sekaligus berjudul Nyanyi Sunyi Seorang Bisu (NSSB) jilid I (1995) dan jilid II (1997).
Pram, demikian dia biasa disapa karibnya, harus menderita dan menjadi tahanan politik karena kekuasaan rezim despotik bernama Orde Baru. Dalam Catatan atas Catatan, buku NSSB itu disebutkan sikon yang di bawah tekanan menjadikan kumpulan catatan pribadi ini berserakan sehingga karangannya terkesan terburu-buru.
Catatan yang tidak bersifat pribadi dirampas, sedangkan sebagian yang bersifat pribadi dapat diselamatkan oleh banyak teman dengan berbagai cara. Ada yang dalam keadaan hancur, setengah hancur atau kabur, tetapi ada juga yang sepenuhnya masih utuh. (Hlm. VIII, NSSB Jilid I)
Entah mengapa dari begitu banyak anak ruhani Pram, saya begitu ragib membaca karya yang satu ini. Barangkali karena kisah yang dituliskan itu bersifat personal sehingga jalinan cerita yang disusun pun menjadi mengalir. Apatah lagi dibuat dalam bentuk sepucuk surat dari seorang ayah kepada anak-anaknya. Terasa sekali aura kebapakan dari sang pujangga kelahiran Blora, Jawa Tengah, pada 6 Februari 1925 itu.
Manusia memang cenderung untuk mengumbar kesalahan sesamanya sekecil apa pun kejelekan itu. Orang berpendidikan tinggi ternyata tidak menjamin bahwa dia telah bersikap adil sejak dalam pikiran. Ya, seorang sarjana muda sejarah berinisial I dari Yogyakarta, masih perlu melaporkan perihal catatan Pram yang terasa subversif itu kepada penguasa.
Beruntung, dari sekumpulan orang jahat masih ada juga manusia yang menggunakan hati nuraninya. Seorang pejabat menasihati agar Pram menghadapi semua (permainan penguasa) itu seperti bermain layang-layang. Angin kencang ulur benang, tidak ada angin tarik benang.
Semua catatan dalam buku NSSB ditulis pada 1973, tahun Pram mendapat izin menulis dari penguasa. Ihwal pengabulan mengarang ini pun didapatkan berkat desakan internasional.
Menurut orang-orang asing itu, hak asasi seorang tapol atas dasar apa pun dan walau bagaimana pun harus diberikan. Demikian ajaran kemanusiaan. Memanusiakan manusia.
Lantas, mengapa Pram mencatatkan semua ini? Agar tidak lenyap dan terlangkahi oleh proses kemerosotan. Selain itu supaya generasi selanjutnya, khususnya generasi muda, mau belajar dari sejarah bangsanya sendiri.
Ya, inilah pengalaman indrawi dan batin seorang anak manusia yang telah tercatat. Betapa susah menjadi pengarang di negeri sendiri.
Sebuah ungkapan menyebutkan bahwa pengalaman seseorang yang telah dituliskan akan menjadi bagian dari pengalaman suatu bangsa dan umat manusia pada umumnya. Oleh sebab itu memungkasi catatan ini, saya ingin mengutip moto Catatan Penutup Penyunting dalam NSSB jilid I, yaitu verba amini proferre et vitam impendero verodia mengucapkan pikirannya dengan bebas dan ia pertaruhkan nyawanya demi kebenaran.

Wandi Barboy, wartawan Lampung Post









Komentar