#kemerosotandemokrasi#pilkadalampung#politik#kotakkosong

Calon Melawan Kotak Kosong Sebuah Kemerosotan Demokrasi

( kata)
Calon Melawan Kotak Kosong Sebuah Kemerosotan Demokrasi
Pengamat politik Universitas Lampung (Unila) Darmawan Purba.Dok.

Bandar Lampung (Lampost.co) -- Jika ada calon kepala daerah di Lampung pada Pilkada Desember 2020 yang melawan kotak kosong dinilai sebagai sebuah kemerosotan bagi demokrasi. Itu menunjukkan kegagalan di internal partai politik dalam mencetak figur atau calon untuk berani maju.

Hal itu disampaikan pengamat politik Universitas Lampung (Unila) Darmawan Purba. "KPU sudah ada regulasi jika nanti hanya calon tunggal atau melawan kotak kosong. Namun, masih ada waktu untuk mendorong partai politik agar masyarakat dapat disajikan pilihan," ujarnya kepada Lampost.co, Senin, 29 Juli 2020.

Darmawan menambahkan semua partai politik yang memiliki kursi di parlemen seyogianya wajib mencalonkan. Bukan lagi alternatif tetapi wajib memberikan pilihan kepada masyarakat untuk berdemokrasi ataupun memilih pemimpin.

"Partai politik ramai-ramai mendukung hanya satu calon atau petahana, tidak ada alternatif pilihan calon hal ini menyebabkan kemerosotan demokrasi. Sebagian besar masyarakat memilih kualitas calon," ujarnya.

Dia menjelaskan mungkin ini terjadi karena dampak dari biaya pilkada yang amat besar sehingga memberatkan elite politik untuk memenuhinya. Sebab, tidak semua tokoh partai mempunyai kemampuan untuk mempersiapkan pembiayaan.

"Sehingga ke depan perlu dipikirkan tentang pilkada yang lebih efisien. Kepercayaan terhadap publik, ide, dan gagasan itulah yang idealnya agar tidak tersandera," katanya.

Muharram Candra Lugina



Berita Terkait



Komentar