Pencabulan

Cabuli Pelajar SMP, Warga Sukoharjo Dibekuk Polisi

( kata)
Cabuli Pelajar SMP, Warga Sukoharjo Dibekuk Polisi
Foto. Dok Polsek Sukoharjo

PRINGSEWU (Lampost.co) -- Tim khusus Anti Bandit (Tekab) 308 Polsek Sukoharjo mengamankan WD (34), pelaku pencabulan anak di bawah umur. Tersangka yang merupakan pedagang tersebut tak melawan saat diamankan di kediamannya di Pekon Siliwangi Kecamatan Sukoharjo, Senin, 6 April 2020.

Kapolsek Sukoharjo Iptu Musakir menyatakan, penangkapan pelaku dilakukan berkat laporan pihak keluarga korban berinisial NH (13), pelajar SMP dengan didampingi KPAI Pringsewu.

"Orang tua korban tidak terima anaknya digauli oleh tersangka sehingga lapor polisi pada 6 April 2020," ungkapnya.

Iptu Musakir mengatakan, terungkapnya perbuatan pelaku berawal pada 31 Maret 2020. Tak sengaja kakak korban membuka HP korban, dan tanpa sengaja melihat ada isi percakapan via whatsapp antara korban dan pelaku yang mengandung unsur mesum. Saat itu juga kakak korban langsung memberitahukan kepada ibunya.

"Awalnya korban tidak mengaku telah dicabuli tersangka saat ditanya ibunya, kemudian pada 5 April 2020 korban baru mengakui tentang perbuatan cabul terhadap WD," ungkapnya.

Bahkan kata Kapolsek, dari pengakuan korban pencabulan dilakukan sebanyak lima kali. "Keterangan korban pun diakui tersangka saat pemeriksaan di Polsek," ungkapnya.

Kapolsek menambahkan pelaku mengaku lupa saat pertama kali melakukan pencabulan terhadap korban. Tetapi pelaku mengaku melakukan perbuatan tidak senonoh sebanyak tiga kali dan semuanya dilakukan di rumah tersangka.

"Terakhir kali pada Kamis 29 Maret 2020," ungkap Kapolsek.

Polisi juga mengungkap motif tersangka, yang nekat melakukan cabul karena tidak mampu menahan nafsu birahinya semenjak pisah dengan isterinya pada 2018. Tersangka juga mengaku ada hubungan khusus dengan korban.

"Untuk proses hukum selanjutnya maka terhadap pelaku kami jerat dengan pasal 76-d juncto pasal 81 ayat 1 UU No. 35/2014 tentang perubahan atas UU No. 23/2002 tentang Perlindungan Anak, dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara," pungkasnya.

Winarko



Berita Terkait



Komentar