#feature#buruhKepil#lamsel#beritalampung

Buruh Kepil Pelabuhan dengan UMR Standar  

( kata)
Buruh Kepil Pelabuhan dengan UMR Standar  
Buruh kepil pelabihan sedang melaksanakan tugasnya. (Foto:Lampost/Aan kridolaksono)

KALIANDA (Lampost.co)--Waktu menunjukkan pukul 13.30 WIB, Jumat (17/5/2019), teriknya matahari membuat enggan beraktivitas pada bulan suci Ramadan 1440 Hijriah ini, tak terkecuali bagi Jaka (41) dan Dedi (40). 
Keduanya buruh kepil pelabuhan (buruh yang mengingkatkan tali kapal yang hendak sandar ke bolder yang ada di dermaga) sedang duduk di bawah gangway Dermaga II Pelabuhan Bakauheni sembari bersenda gurau.

Kedua lelaki yang mengenakan seragam warna oranye dengan lengan warna hitam itu tiba-tiba beranjak saat mendengar suara suling kapal yang memekakkan telinga itu mendekati dermaga. "Ayo jangan males-males. Nanti nylonong ke dermaga lain,  kita yang babak bingkas ce, " ucap Dedi sambil menarik tangan Jaka dan berjalan bersama menuju tepi dermaga.
Beberapa menit kemudian, sebuah tali kecil dan menyusul tali berukuran besar dilempar olah seorang petugas dari atas KMP Prima Nusantara. Kedua sahabat yang telah bekerja selama lima tahun sebagai buruh kepil itupun menarik kedua tali itu mendekati bolder dan mengikatkannya.  

Selesai sudah pekerjaan, kedua buruh kepil pelabuhan tersebut. Mereka pun kembali ke tempat duduk semula, sementara KMP Prima Nusantara membongkar muatan. Kedua akan kembali bekerja saat kapal akan berlabuh atau akan ada kapal yang hendak bersandar.

Meski hanya sebagai penarik tambang kapal, terkadang pekerjaan mereka sempat membuat jantung bergerak cepat. Keduanya mengaku pernah menyaksikan kapal yang hendak sandar terbawa arus, sementara tali tambang belum dilempar oleh petugas kapal. 
"Saking kagetnya kami berteriak sekencang kencangnya agar kru kapal ada yang dengar teriakan kami dan segera melempar tali agar tidak semakin jauh terbawa arus, Kalau sudah terbawa arus,  kapal sulit sandar," kata Dedi kepada Lampost.co.

Dedi menceritakan bekerja sebagai buruh kepil sejak lima tahun lalu. Sambil bercerita kedua buruh kepil itu mendekati kru kapal yang sedang melayani pengguna jasa yang membawa kendaraan. Sesekali di antara mereka ada yang berdiri dan memegang bodi kendaraan roda empat pribadi yang hendak masuk kapal yang sandar di dermaga III tersebut. 

"Upah buruh kepil gak besar. Standar UMR, " ujarnya sembari berjalan kembali ketempat duduk semula. 

Dengan penghasilan sebagai buruh, ia mengaku belum mampu menghidupi istri dan ketiga anaknya secara layak. Apalagi, anak tertuanya duduk dibangku kelas 1 SLTA."Jadi kalau malam bantu istri nyambi jual gorengan di pasar," ucap Jaka lirih.  

Aan Kridolaksono

Berita Terkait

Komentar